Sabtu, 07 Januari 2012

.:: Eeniee Meeniiee ::. pt. 18

“tujuanku buat nembak kamu.” kak rendi to the point.
      “yah, kalo di tembak aku mati dong. jangan deh kak,,, aku masih pengen hidup,,, pengen nemenin papa sama mama, nemenin kak theoo, nemenin kakak juga…” kataku ngaur. Nembak? Iyakah? Kok bisa? kak rendi nembak aku?
      “nembaknya pake peluru cinta itik,,,” kak rendi mencubit pipiku gemas.
      “kata-katanya copas tuh kak rendi… korban sinetron yah.” godaku, masii nylemor. Takut ke-GR an. mampus. Kalo kak rendi nembak beneran aku mesti jawab apa?
      “sofi aku serius.” Kak Rendi menggenggam tanganku dan menatapku lekat. Aku salting. Kenapa salting? Jangan-jangan aku…
      “sof, aku suka sama kamu.” kata kak rendi.
      Loh beneran nembak toh? Nah loh. Jadi galau deh akunya. Aku emang deket sama kak rendi. aku nyaman sama dia. dan mungkin Cuma dia satu-satunya cowo yang bisa mengalihkan perhatianku dari izal. tapi meskipun gitu,,, posisi izal masih utuh disini dan ga pernah tergeser sedikitpun meskipun aku udah susah payah ngusir dia dari hidupku.
      “aku… aku… aku kebelet pipis……” rengekku.
      “hadeeeehhh…” kak rendi memutar bola matanya. gubrak.
      “hehe,,, abis udaranya dingin kak.” Aku nyengir.
      *skip…
      “gimana? Udah pipisnya?” tanya kak rendi yang menungguku di depan toilet sebuah pom bensin.
      “udah.” Aku nyengir. rada ga enak juga sama kak rendi. dia uda serius, tapi akunya malah ngrusak suasana gara-gara kebelet pipis.
      Kak rendi memarkir mobilnya di kedai es krim yang ga jauh dari pom bensin. Aku tau kedai ini. karena aku sering kesini. Sama sonia. sama izal. sama kak rendi dan sonia, sama kak theoo. Pokonya sering lah, sama orang terdekatku tentunya.
      “mbak, coklat kismis 2 skop yah.” pesan kak rendi. coklat kismis itu es krim kesukaanku. 2 skop, itu porsi yang selalu ku pesan untuk es krim faforitku itu. kak rendi afal banget.
      “duduk situ yuk.” Kak rendi menunjuk tempat di sudut kedai dekat dinding kaca yang dialiri air sehingga terkesan seperti sedang hujan. Tempat yang nyaman.
      “sekarang kamu mau apa lagi?” tanya kak rendi.
      “maksudnya?” aku balik nanya ga ngerti.
      “kebelet pipis, poop, gatel, laper, aus, ato apalah sejenisnya yang bisa ganggu pembicaraan kita.” Jelas kak rendi serius. “buat antisipasi aja.” lanjutnya.
      “hehehe… udah ga pengen apa-apa lagi kok kak.” Aku nyengir. ngerti maksudnya dia.
      “permisi mas, mbak, ini pesanannya.” Seorang pelayan datang membawakan pesanan kami. Ada 2 gelas besar es krim coklat kismis dengan wafer roll dan taburan kismis tentunya + biscuit sebagai pelengkap waktu makan es krim. Heem,, yummy… *liur bercucuran :D
      “aku tau ga semudah itu buat kamu buat lupain izal. aku bisa ngerti perasaan kamu ke dia. aku sayang sama kamu sof. Aku ga tega liat kamu sedih gara-gara izal. aku ga mempermasalahkan perasaan kamu ke izal sekarang. aku akan sembuhin luka kamu. aku akan bantu kamu lupain dia. aku ga mau kamu teru-terusan tersakiti sama dia. karena disaat kamu sakit. aku juga sakit.” kata kak rendi panjang lebar. Dia menatapku lekat dan menggenggam tanganku.
      Ya. ga semudah itu lupain izal. tapi, aku ga bisa terus-terusan hidup dalam bayang-bayangnya dia. aku ga bisa ngusir dia dari hidupku saat aku sendiri. tapi, gimana kalo ada kak rendi disisiku. Mungkinkah?

      ***

      Izal duduk di dalam mobilnya. Sudah 2 jam lebih dia berada di depan rumah sofi. entah apa yang di tunggunya. Jangankan memikirkan menunggu apa. alasan kenapa dia bisa sampai di rumah sofi saja dia ga tau. *ckckck izal… what’s wrong with u?
      Hubungannya dengan sonia memang membaik. Tapi itu tidak berlaku untuk hubungannya dengan sofi. mungkin gara-gara pertengkaran waktu itu. wajar saja kalo sofi menghindar darinya. Tapi yang ga harus juga kali. Ada banyak hal yang ga sofi mengerti. dan terlalu banyak hal yang perlu di jelasin ke sofi. mulai dari alasan kenapa izal bisa jadian sama sonia, alasan kenapa sekarang izal tambah deket sama sonia,,, AARRGGHHH kenapa jadi banyak alasan begini sih? terus gimana jelasinnya kalo sofi aja sekarang uda tolak menolak sama izal.
      Sebuah mobil berhenti tepat di depan gerbang tinggi rumah sofi. beberapa meter jaraknya dari mobil izal yang sedari tadi terparkir di bawah pohon cemara depan tembok pagar rumah sofi.
      “loh itu kan…” gumam izal ketika melihat Honda jazz silver yang berhenti di depannya.
      Tak lama kemudian dia melihat rendi keluar dari mobilnya dan membukakan pintu untuk sofi? Arrghhh!! DAMN!!
Dia melihat rendi dan sofi berbincang-bincang sebelum akhirnya… ANJRIT!! Rendi nyium kening sofi?!!

***

      “Sofi!!”
      Terdengar suara seorang cowo memanggilku. Kok dia bisa ada disini? aku tak menghiraukannya. Cepat-cepat aku membuka kunci gerbangku, membuka handlenya dan masuk, tapi langkahku tertahan. Ah, dia menarik tanganku. Aku menarik nafas panjang dan berbalik menatapnya.
      “izal,, lo apa-apaan sih…?!” aku berusaha menarik tanganku dari genggamannya. Tapi ga bisa. terlalu kuat. “izal,, sakit. lepasin!!”
      “disini ga ada sonia. sekarang lo ga bisa menghindar.” Bisik izal yang sekarang memelukku.
      “izal,, lepasin!!” aku mendorong tubuh izal berusaha melepaskan pelukannya. Tapi lagi-lagi ga bisa. akhirnya aku mengalah dan lebih memilih untuk diam. dipeluk izal begini,, aku jadi mikir dan bertanya-tanya dalam hati.
Ini izal yang ketinggian, ato aku yang emang mungil sih? kalo diliat-liat perasaan kita sejajar deh, yea… emang rada tinggian Izal dikit sih, tapi ga separah ini. masa’ tinggiku Cuma sebahunya dia?! posisi kupingku tepat didadanya dia. jadi aku bisa denger dengan jelas detak jantungnya yang berdegup kencang.
      “sof, bisa ga lo tunggu gue sebentar aja?” bisik izal lirih.
      Aku diam. aku tau maksudnya. Bisa aja sih sebenernya. Toh perasaan ini juga belum berubah, meskipun sedikit terguncang karena ada kak rendi. tapi sampai kapan aku harus nunggu dia? sampai belut punya kaki? Ato sampai lele punya bulu? Ato sampai bulan bisa pelukan sama matahari? Kiamat dong. tidak… tidak… tidak…
      “gue tau gue egois, gue berharap lo tetep disisi gue sementara gue sama sonia. tapi lo harus tau, gue punya penjelasan tentang semua ini.” lanjutnya. Dia melepaskan pelukannya dan menatapku lekat.
      “penjelasan apa? penjelasan kalo sekarang lo mulai suka sama sonia, trus lo berharap gue nungguin perasaan lo itu berakhir, sampe akhirnya tar lo bisa sama gue, gitu? Jadi maksudnya lo nyuruh gue antri, eh?” haduh,,, kenapa aku jadi marah-marah gini sih? calmdown sofi,,, calmdown…
      “bukan itu sofi,,, lo tau gue Cuma suka sama lo. gue ga pernah suka sama sonia.” jelas izal
      “ga pernah suka kok jadian? Kalo emang ada penjelasaannya, kenapa lo ga jelasin dari dulu-dulu?” aku keras kepala.
      “itu karena lo ga pernah mau dengerin gue.” izal mulai emosi.
      “ok sekarang gue dengerin lo. lo bisa jelasin semuanya.” kataku dingin.
      “ok. semuanya berawal dari kecelakaan lo di townsquare itu. waktu itu kondisi lo kritis, dan lo…”
      Kalimat izal terhenti. Aku mendengar dering hp berbunyi. mungkin miliknya. Dan benar. Izal mereject panggilannya. Dia menatapku lekat dan akan nmelanjutkan kembali kalimatnya yang sempat terputus. Tapi hp nya bunyi lagi. izal mendengus kesal. Aku memutar bola mataku bosan.
      “angkat tuh. Berisik.” Kataku dingin. izal keliatan bimbang, tapi akhirnya menjawab telfonnya.
      “hallo, apaan sih sonia?” izal jengkel.
      Sonia? hatiku mencelos. Bahkan disaat kayak ginipun sonia masih aja jadi dinding pembatas antara aku sama izal. padahal aku juga penasaran banget sama penjelasannya dia. hubungan mereka emang ga beres menurutku. Tapi meskipun begitu sukses bikin aku patah hati. *berurai air mata.
      “ah, udah lah zal. gue ga ada waktu buat jadi obat nyamuk lo yang lagi kencan via udara sama sonia. semuanya uda cukup jelas buat gue. lo lanjutin aja hubungan lo sama sonia, kalian cocok kok.” Aku beranjak dari tempatku.
      “sofi…!! hey… sofi!!” (brak… brak… brak…) izal menggedor gerbang besi rumahku. Aku tak peduli dan melanjutkan langkahku menyusuri halaman rumahku yang luas. Katanya ga suka, tapi jadian. Kayaknya terpaksa, tapi semesra itu. gue sakit liat kalian, semua ini buat gue luka. Mungkin semuanya uda cukup sampai disini. lupain penjelasan izal. itu ga penting. Karena ini saatnya buat lupain dia.

***

      Sonia sedang bersiap-siap dikamarnya sambil bersenandung ria. Sonia melirik kalender kecil yang ada diatas meja riasnya. hari ini tanggal 29. Hari yang telah di tunggu-tunggunya selama beberapa minggu terakhir ini. yup!! hari ini adalah hari dimana audisi solois akan dilaksanakan. Hari ini sonia akan mempersembahkan penampilan terbaiknya yang merupakan hasil dari kerja kerasnya mengikuti les vocal selama ini.
      “kali ini gue pasti lolos. Les vocal udah, minum madu, minyak zaitun, semuanya udah gue lakuin. Kurang apa lagi coba? Gue harus lolos. Lagian, panitia Mo lolosin peserta kayak gimana lagi kalo bukan yang kayak gue.” kata sonia sok. Sambil tersenyum sinis pada bayangannya sendiri. tapi, tak lama kemudian senyumnya memudar.
      “tunggu. Kalo ga salah, sofi ikutan audisi ini juga kan. hem,, meskipun gue yakin kalo penampilan gue lebih bagus dari dia, tapi,, keberadaannya sofi masih tetep jadi ancaman buat gue. gue harus lakuin sesuatu.” Gumam sonia. dia duduk di kursinya seperti sedang memikirkan sesuatu. Dan akhirnya senyum sinis dan licik mengembang di bibir indahnya. sonia beranjak dari tempatnya dan berjalan menuju dapur. Ada susan yang sedang membuat sandwich disana. Tapi susan keliatannya lagi sibuk. Jadi dia ga akan tau yang terjadi. Bagus.

***

      “lo ga lupa kalo nanti ada audisi solois kan?” tanya susan seraya mengingatkan.
      “engga kok. Istirahat kedua kan?!” jawabku santai. susan mengangguk.
      “oh, ya. gue bawa sandwich nih. lo makan gih. Audisinya kan pas istirahat makan siang. Jadi lo harus makan sekarang, soalnya nanti ga bbakalan sempet.” Susan mengeluarkan kotak bekal dari dalam tasnya dan menyodorkannya padaku.
      “bener juga yah. hem,, lo baek banget sih sama gue. perhatian lagi. gue jadi curiga. Lo ga lagi naksir gue kan?!” aku melirik susan dengan tatapan menyelidik.
      “yeey, gue normal kali sof. Lo tu baek. Makanya gue suka baek-baek sama lo. udah, makan gih!!” susan mengambil kotak bekal itu dari tanganku, membukakan tutupnya lalu menyodorkannya kembali padaku.
      “hem, kayaknya enak.” Kataku sambil menatap dua pasang sandwich didalam kotak bekal susan.
      “pasti dong, gue sendiri yang buat. Buruan makan. Tar keburu masuk lagi. abisin yah!!” aku mengangguk lalu mengambil sepasang sandwich. “selamat makan…”
      “hey sofi!!”
      Suara seseorang sukses menggagalkan niat makanku, padahal uda mangap. Tinggal gigit doang. Aku melirik kearah pintu tempat suara itu berasal, ada suci yang berjalan kearahku.
      “lo udah ke ruang BK belu,” tanyanya setelah sampai di mejaku.
      “eh? ruang BK? Ngapain?” tanyaku sambil meletakkan kembali sandwichku.
      “gue, lo, sama susan di panggil keruang BK sekarang. nih surat panggilannya.” Suci menyodorkan secarik kertas yang merupakan surat panggilan dari BP. Ada namaku yang tertulis di kertas ini. waktu panggilannya jam istirahat pertama yang berarti sekarang.
      “gue malah baru tau ini.” gumamku. Susan mengambil kertas itu dari tanganku.
      “ngapain BP manggil kita?” tanyanya. Suci mengangkat bahunya tanda tak tau.
      “ya udah deh. Kita kesana aja. disitu tulisannya informasi. Palingan juga mo di konseling soal universitas, taun depan kan kita uda kuliah.” Jawabku. Suci dan susan manggut-manggut.

      ***

      Seorang cewe yang sedari tadi berdiri di depan kelas tersenyum puas menatap punggung Susan, Sofi, dan Suci yang semakin lama semakin menjauh. Tengok kanan, tengok kiri, setelah merasa keadaan cukup aman, cewe itu memutuskan untuk masuk kelas.
      Berhubung lagi istirahat jadi keadaan kelas sepi karena anak-anak lebih suka menghabiskan waktunya di cafeteria atau browsing di hotspot area. Ini member keuntungan tersendiri bagi cewe itu karena dia bisa dengan leluasa menjalankan aksinya.
      Cewe itu mendekati meja sofi dan mengambil kotak bekal yang tergeletak begitu saja di meja, meletakannya di mejanya sementara dia mengambil sesuatu dari dalam tasnya.
      “sory zal, gue uda ingkar janji sama lo. gue terpaksa lakuin ini. gue janji, ini kejahatan terakhir yang gue lakuin buat sofi.” gumam cewe itu sambil mengoleskan sesuatu diatas roti pelapis sandwich sofi.

***

      “kemana aja lo? tumben ga ngekor gue?!” ledek izal begitu melihat sonia yang berjalan mendekatinya.
      “kenapa? kangen yah…” goda sonia yang duduk disamping izal sambil menyeruput milkshake milik izal.
      “yeey, puny ague tuh. Beli sendiri.” izal merebut gelas milkshakenya dari tangan sonia.
      “ish, lo mah pelit banget. sama cewe sendiri juga.” sonia cemberut. Izal tersenyum sinis sambil menyeruput habis milkshakenya. “zal, tar gue audisi. Lo temenin gue yah. kasih semangat biar gue lolos.” Sonia bergelayut manja di tangan izal.
      “ummm,,, tapi tar abis itu lo anterin gue ke klinik THT yah?” kata izal.
      “loh, emang kenapa? lo sakit zal?” sonia membolak balik wajah izal.
      “sekarang sih engga. Tapi tar abis denger lo nyanyi pasti kuping gue berasa kayak ada tawonnya. Ngiiuuungg… nguuuung… nguuuung… gitu” ledek izal.
      “ish, lo mah ngledekin gue mulu.” sonia cemberut lalu mencubit perut izal, membuatnya meringis kesakitan.

***

      Suasana aula sudah ramai dengan peserta audisi. Para panitia yang terdiri dari anak OSIS dan anggota vocal grup sedang melakukan persiapan. 3 orang juri yang terdiri dari 1 pelatih olah vocal, dan 2 guru seni sudah siap dimejanya. Sedangkan para peserta menunggu gilirannya dengan tampang tegang mirip orang pengen poop.
      Aku melihat izal dan sonia duduk di bangku panjang di pinggir aula, tepat bersebrangan denganku. Izal bersandar pada dinding aula, stay cool dengan tangan terlipat di dada, mata yang terpejam dan headphone di telinganya. Sedangkan sonia yang duduk disampingnya terlihat sedang mengalungkan nomor pesertanya, ada gurat ketegangan yang tersirat di wajah angkuhnya.
      “ekhrem…” aku berdeham sambil mengelus leherku. Ada yang aneh. Sejak jam pelajaran tadi tenggorokanku rasanya serak dan gatal.
      “sof, gue tegang nih…” kata susan yang duduk disampingku. Aku melihat dia meremas remas tangannya sendiri sambil sesekali mengetuk-ketukkan kakinya di lantai.
      “ehm,, lo tenang aja,, ekhrm,,, gue aja yang mo… ekhm… audisi asik-asik ekhrm… aja.” aku menenangkan susan.
      “sof, lo kenapa?” tanya susan yang heran mendengarku bolak-balik berdeham.
      “tenggorokan gue serek.” Keluhku sambil mengelus leherku.
      “lo mo minum? Nih gue ada air.” Susan menyodorkan botol air mineral padaku.
      “gimana? Uda baikan?” tanya susan setelah aku selesai minum. Aku mengangguk.
      Drrt… drrt… drrt… hp ku getar.
      From: Kak Rendi
     Gimana audisinya? Sukses? :D

      To: Kak Rendi
     Ini lagi nunggu giliran

      From: Kak Rendi
     Oh, good luck yah. cium dulu biar tambah semangat (*^3^)/

      aku tersenyum membaca sms dari kak rendi. jadi… kita beneran jadian yah? aku sendiri ga tau. jalani aja lah…

***

      From: Sofia
     Hahaha di cium kebo :p
    
     “ciye… ciye… yang baru jadian. Sumringah bener.” Goda marco yang meihat rendi senyum-senyum sendiri sambil menatap layar hp-nya.
      “ngomong-ngomong, gue lagi laper nih. kayaknya asik kalo ada yang nraktir. Apalagi kalo inget jasa gue kemaren, kerja keras buat nyiapin surprise itu nguras tenaga banget. perut gue pasti seneng kalo diisi beefsteak ato seafood sejenis tuna, lobster asem manis, kepiting pedas, hem…” marco duduk bersandar di bangku taman kampus sambil mengelus perutnya membayangkan makanan-makanan enak itu.
      “iya… iya… bawel banget si lo. kayak tukang kredit.” Rendi melempar marco dengan ranselnya. “ya udah. Jalan gih, da siang. Tar gue mesti jemput sofi.” rendi bangkit dari kursinya dan mengambil ranselnya dari pangkuan Marco.
      “haaseeekk… makan-makan.” Marco tersenyum puas lalu berjalan menyusul rendi.
      “tapi ngomong-ngomong… dompet gue ketinggalan nih. pake duit lo dulu yah.” rendi meraba saku celananya.
      “yee,, sialan lo. sama aja boong kalo begini mah.” Gerutu marco. Rendi tersenyum. dia hanya menggoda marco. Mana mungkin dia meninggalkan barang mungil yang penuh dengan kertas dan kartu ajaib itu.
      Rencananya berjalan dengan baik. dan berkat bantuan marco dengan surprise yang disiapkannya yang sinet banget tapi sukses membawa rencananya ke tahap lanjutan. Jadian dengan Sofi.
      “hah?? Lo mo nembak sofi?! bukannya sofi cewenya Izal?” tanya marco yang terkejut mendengar pernyataan rendi. “tunggu, gue juga mo nanya sama lo nih, kenapa waktu lo nganterin sepatu gue, lo dateng sama Sofi? bukannya cewe lo Sonia?!” tanya marco lagi.
      “ye,,, cumi. Makannya dengerin gue dulu! orang gue baru ngomong satu kata, elo uda nanya satu paragraph. Kayak soal ujian bahasa Indonesia tauk!!” rendi menoyor kepala marco. Yang di toyor malah nyengir.
      “jadi gini, gue sama sonia uda game over. Sekarang gue deket sama Sofi dan pengen nembak dia.” jelas rendi.
      “tapi kan…”
      “tapi apa? izal suka sama Sofi? terus kenapa? Cuma suka ini. mereka ga jadian kan. lagian sofi-nya asik-asik aja sama gue. jadi ga ada salahnya kan, kalo gue pengen nembak dia.” rendi memotong kalimat marco.
      “bener juga sih. tapi gue ga enak sama Izal. kalo dia sakit hati gimana?” marco ragu.
      “ish. Lo kenapa jadi mellow begini sih?! kalo dia sakit hati gara-gara sofi sama gue, ya salah dia sendiri kenapa ga nembak sofi dari dulu. lagian, gue yang bakal sakit hati kalo dia nembak sofi duluan. So, apa bedanya?! Hidup itu persaingan men. Siapa cepat, dia dapat. Lagian dia juga uda jadian sama sonia.” rendi meyakinkan.
      “sinting lo berdua. Jadi acaranya tukeran pacar apa bales dendam nih?! terus, lo mau gue  lakuin apa?” tanya marco serius.
      “gue pengen lo siapin candle light diner buat gue sama sofi di gedung itu. konsepnya terserah, tapi harus romantis. Gue pengen nembak Sofi disana.”
      “ok. itu gampang nanti malem pasti beres.” Marco setuju. Rendi tersenyum puas.
      Sofi udah jadi miliknya. Sekarang apa lagi? apa dengan begini uda cukup buat nyakitin Izal? Tentu tidak…

To be continue...

.:: Eeniee Meeniiee ::. pt. 17

“zal, nanti anterin gue les vocal lagi yah. besok uda audisi, nanti latihan terakhir gue.” sonia menggelaayut manja di lengan izal.
      “aduh sonia,,, nungguin lo les vocal tu lama banget. BT gue nya,,” tolak izal.
      “yah izal,,, ini terakhir deh,,, besok ga lagi. mau yah… mau…” sonia memasang tampang angel nya. Izal menarik nafas panjang lalu mengangguk. matanya tertuju pada Sofi yang duduk sendiri di depan kelas, sofi juga melihat kearahnya. Izal yang menyadari sonia sedang bergelayut manja  di lengannya langsung salah tingkah. Sofi buang muka.
      “ok, gue mau, tapi lepasin tangan gue, gue risi tauk!!” bisik izal. sonia nyengir lalu melepaskan tangannya.
      “eh, lo pake gelang? Keren… tapi… kayaknya pernah liat ada yang pake ini juga deh…” sonia mengangkat tangan izal, memandang gelang yang di pakainya seraya mengingat sesuatu.
      “emang ada. lo liat ini di tangannya rendi kan.”

      ***

      Aku duduk di ruang keluarga. Menganti-ganti chanel tv ku secara acak. Bosan. Jadi kepikiran izal sama sonia yang makin deket. Sebel juga liatnya. Kenapa harus jadi sedeket itu sih?
      Aku memandang hp ku yang tergeletak diatas meja. mengambilnya dan membuka inbox nya. Hari ini aku ga smsan sama kak rendi sama sekali. Kak rendi ga telfon bahkan ga jemput aku sekolah. Kemana sih dia? kok rasanya jadi kayak ada yang kurang gini yah? kangen kah? Hem… *galau
      ‘ting tung’ bel rumahku bunyi. aku beranjak dari sofa, dan dengan ogah-ogahan berjalan menuju pintu.
      ‘ceklek’ aku membuka pintu.
      “hai,,!!” sapa kak rendi dari balik pintu.
      “kak Rendi?” aku mengernyit. Tapi seneng bisa liat dia. “masuk yuk.” Ajakku. Kak rendi menggeleng.
      “engga deh. Ikut aku yuk.” Kak rendi menarik tanganku.
      “kemana kak?”
      “nanti juga kamu tau.” kak rendi membukakan pintu mobilnya untukku.
      “iya,, iya,, tapi ganti baju dulu yah. lagi jelek nih.” pintaku. Kak rendi menatapku sejenak yang Cuma pake blus lengan terbuka dari bahan kaos bergambar kepala doraemon, celana pendek, dan sandal jepit.
      “engga. Uda cantik kok. Imut.” Kata kak rendi sambil tersenyum tipis. “oh, ya. sebelumnya kamu pakai ini dulu yah.”

      ***

      Rendi membukakan pintu mobilnya untuk Sofi lalu membantunya turun. Rendi menggenggam tangan Sofi memastikan agar gadis mungil itu tetap disisinya. Sementara sofi yang sedari tadi tak bisa melihat karena matanya ditutup kain hitam hanya bisa diam.
      Rendi tersenyum puas melihat hasil karya Marco. Lantai paling atas gedung bekas tempat parkir sebuah apartemen itu mala mini di sulap menjadi tempat candle light diner yang romantic. Lilin-lilin putih berbaris rapi mementuk jalan setapak yang menuntunnya ke meja makan yang telah disiapkan lengkap dengan hidangannya tentunya :p
      “kakak, kita lagi dimana sih? penutup matanya dibuka aja yah. aku takut gelap.” Rengek sofi. rendi meliriknya dan tersenyum.
      “ok. kamu siap-siap yah.” kata rendi lembut. Lalu membuka simpul kain penutup mata sofi.
      Sofi mengedip-kedipkan matanya yang pandangannya sedikit kabur dan berkunang-kunang karena di tutup tadi. Dia menutup mulutnya dengan kedua tangannya seraya memekik pelan menyadari pemandangan di hadapannya.
      Rendi tersenyum tipis. Mengangkat tangannya untuk menggandeng sofi. sofi tampak ragu dan bingung, tapi akhirnya dia meraih tangan rendi dan berjalan bersama menyusuri jalan setapak yang terbentuk dari barisan lilin menuju meja candle light diner ala Marco.
      Rendi menyeret kursi dan mempersilakan sofi duduk. Sofi yang bingung hanya menuruti gerak gerik rendi.
      “gimana? Kamu suka tempatnya?” tanya rendi. sofi memandang sekelilingnya. suasana malam kota bandung terlihat jelas dari tempatnya. Mobil-mobil terlihat seperti barisan semut yang berkelap-kelip. Begitu juga gedung-gedung disekitarnya, cahaya lampu yang terpancar dari kaca-kacanya terlihat seperti bintang yang menggantung rendah di langit.
      “disini indah.” gumam sofi. rendi tersenyum. “tapi, ngomong-ngomong, ini ada acara apa yah? kakak ulang tahun?” tanya sofi polos.
      “engga kok. Ga ada acara apa-apa sih, aku Cuma pengen ngajak kamu candle light diner aja, sekalian mraktekin kejutan-kejutan romantic yang biasa aku tonton di sinetron-sinetron.” Jawab rendi ngaur.
      “iya. jadi sinetron abis. Hahaha… ngomong-ngomong judul sinetronnya apa nih?” goda sofi.
      “um,, kalo flora dan fauna gimana?” timpal rendi.
      “kenapa ga babi ngepet aja sekalian. Tuh lilinnya banyak.”
      “yee,, kalo kebanyakan lilin tar kita susah niupnya. Babinya keburu mati dihajar masa.”

***

      Izal menghentikan mobilnya di depan gerbang tinggi rumah sonia.
      “zal, mampir ke rumah dulu yah. sebelum berangkat tadi gue bikin cookies. Lo cobain deh.” Ajak sonia.
      “gue langsung pulang aja deh sonia. cape. Besok-besok aja cookiesnya lo bawa ke sekolah. Tar gue makan.” Tolak izal. sonia terlihat kecewa.
      “ya udah deh. Lo mo temenin gue les vocal aja gue udah seneng kok. Thanks ya zal.” kata sonia sambil turun dari mobil izal.
      “yup!” izal mengangguk. “ya udah lo masuk rumah gih. Tar lo di gondol kucing lagi.” goda izal.
      “yee, lo pikir gue ikan asin apa. Tapi kalo kucingnya lo, gue mau deng.”
      “ih, gue mah ga doyan ikan asin. Ya udah. Gue pergi yah.” izal pamit. Sonia mengangguk. sambil melambaikan tangannya mengantar kepergian izal *kaya orang mati aja. oops. Astagfirullah.
      Izal melihat kaca spionnya. Sonia mulai beranjak dari tempatnya.
Hem,,, sonia. dia sebenarnya cantik. dia juga baik. dia perhatian dan pinter masak. Apalagi yang kurang? Sebagai cewe dia cukup sempurna. mungkin di luar sana banyak cowo yang berebut perhatiannya, tapi sonia telah memilih izal. ok, sonia memilih izal dan izal memilikinya sekarang. terus kenapa? mungkin keberadaannya telah menimbulkan patah hati masal bagi cowo yang ada di antrian sonia. terus mau apa? yea,,, izal emang 1000 kali lebih beruntung ketimbang cowo-cowo itu. dia bisa mendapatkan posisinya disisi sonia dengan mudah. Izal bisa saja berbangga hati dengan apa yang telah dimilikinya sekarang. tapi sayangnya dia belum bisa lepas dari pesona sofi. membuat kemenangannya karena telah memiliki sonia menjadi tidak berarti sama sekali.
Sofi. cewe mungil yang polos tapi luar biasa mempesona dengan segala yang ada dalam dirinya. Sejak kapan dia suka pada sofi? izal sendiri tak tau. Pertemuannya di depan gedung bimbel sepulang latihan footsal itu hanyalah sebuah proses. Mungkin dia uda terlahir untuk mencintai sofi kali yah.
Waktu itu hari pertama masuk SMA. Masa orientasi ga bisa di lewatkan begitu saja karena itu bisa dibilang tradisi sekaligus ritual turun temurun sebelum memasuki lingkungan SMA yang sebenarnya.
Aula SMA NUSANTARA jam 09.00 am
Disini penuh sesak ndengan anak-anak baru yang sukses tampil konyol dengan atribut-atribut anehnya. Kalung raffia jang pake jumbai-jumbai dari kancang panjang terus dikasih liontin wortel buat anak cewe dan terong buat anak cowo. Anak cewe rambutnya di kepang banyak pake pita warna-warni dari faffia, mirip kayak orang gila yang tidur di pojokan Pasar Baru,yang cowo pake topi dari bola plastic trus di tengahnya di kasih raffia yang uda di sobek-sobek mirip kayak upin-ipin.
      Izal duduk di sudut aula. tampak frustasi dengan pidato kenegaraan dari wakasek kesiswaan yang sangat GJ. Temanya apaa,, yang diomongin apa. maksud hati pengen ngikutin stand up comedy nya raditya dika, tapi apa daya feel tak sampai. Kalo raditya dika sukses bikin kita ketawa sambil nahan kentut, nah kalo wakasek satu ini, sukses banget buat kita jadi kerupuk. Garing bener. Mana ekspresinya flat banget. kayak model ibu-ibu di iklan Axis. *Itu iklan apa demo masak sih buu…
      Izal mengedarkan pandangannya ke sekeliling aula. Anak-anak lain tak kalah frustasinya. Rama yang duduk di sampingnya malah uda kabur ke pulau mimpi, sambil ngumpulin oleh-oleh berupa iler satu ember. Izal menarik nafas panjang, matanya tertuju pada cewe yang duduk di tengah aula. Pas liat cewe itu sesaat waktu terasa berhenti. Keadaan gelap, hanya ada setitik cahaya surga yang terpusat pada cewe itu *ooo… drama baget (>o
      Disana ada dua cewe. keduanya cantik. bedanya yang satu pake kacamata ber frame putih, yang satunya lagi engga. Dan padanya lah pandangan izal tertuju. Cewe bermata bulat dan bening tanpa kacamata, pipinya sedikit chubi. Meskipun di kepang banyak kayak orang gila, tapi dia keliatan kayak orang gila yang imut. Saat menatapnya ada rasa nyaman disini *nunjuk dada. Rasanya kayak baru aja nemuin potongan puzzle yang klop. Bener-bener klop sampe-sampe ga ada waktu buat lirik yang lain. tapi siapa dia?
      Keesokan harinya…
      “hey, kenapa atribut kamu gak lengkap? Mana kalung kamu?!” tegur kakak OSIS sedikit membentak.
      “kacang panjang sama terongnya uda jadi sayur lodeh kak.” Jawab izal nyolot.
      Gerrr… tawa anak-anak menggema di kelas. Akhirnya, izal dihukum lari keliling lapangan 10 kali. 5 untuk atribut yang tidak lengkap. Dan 5 lagi gara-gara nyolotin PJ kelas.
      “lo dapet berapa putaran?” seorang cewe menegur izal. izal melirik cewe yang lari disampingnya. Cewe itu,,,
      “kurang 3 lagi.” jawab izal singkat.
      “yah, berarti 2 putaran kedepan, gue bakal lari sendirian dong.” kata cewe itu terdengar kecewa.
      “hahaha… nikmatin aja.” izal stay cool. cewe berkacamata itu tersenyum. ‘kemarin cewe ini duduk disamping cewe imut itu. pasti dia kenal sama cewe mungil yang berhasil bikin hati gue ketar-ketir itu.’ pikir izal.
      “gue udah selesai. Sampai ketemu lagi. gue Izal.” kata izal sambil berlari mundur ke pinggir lapangan mengakhiri hukumannya.
      “Gue Sonia…” kata cewe berkacamata itu tanpa menghentikan larinya.
      Itu adalah percakapan pertamanya dengan Sonia. dan dari Sonia, dia bisa tau setidaknya nama cewe imut itu. Sofi. izal ga bisa nyari info lebih banyak tentang Sofi ke Sonia, karena Sonia selalu mengalihkan topic pembicaraannya. Mungkin karena itu.
      Sofi,,, Sofi,,, pesonanya emang ga pernah berubah. dari dulu sampe sekarang, dia tetep gadis puzzle yang klop di kepingan puzzle hati izal. sayangnya keadaan berubah dengan cepat. *Ckckck lagi-lagi nyalahin keadaan.
      Tanpa disadari izal telah sampai di depan rumah Sofi. kok bisa?

***

      “kok ga dimakan? Ga enak yah makanannya?” tanya kak rendi.
      “engga kok kak. Aku Cuma lagi ga nafsu makan aja.” jawabku.
      “hem,, bilang aja kamu lagi diet. Iya kan?!” goda kak rendi.
      “yeey, aku mah ga pernah diet-dietan apaan tuh. Kalo aku diet, tar kalo ada angin aku bisa nyangsang di pohon.”
      Kak rendi tertawa mendengar kalimatku.
      “tapi kamu harus tetep makan. Tar kamu sakit loh. Apa, kamu minta disuapin?”
      “eh?”
      Kak rendi mengambil pisau dan garpu dari tanganku. Beef steakku menjadi potongan kecil-kecil.
      “ok, kereta datang… buka terowongannya. Aaaa…” kak rendi menyuapkan sepotong beef steak untukku.
      “yee,, emangnya aku anak kecil apa?!” gerutuku. Tapi akhirnya aku makan juga suapan dari kak rendi haha. beef steaknya enak. Entah emang karena rasanya begini, atau karena kak rendi yang menyuapkannya untukku. Entahlah. “kakak juga makan yah,,,” aku mengambil garpu dari tangan kak rendi dan menyuapkan sepotong beef steak padanya.
      Finally,,, untuk beberapa waktu kedepan kita suap-suapan :p
      *skip…
      Aku dan kak rendi duduk di bangku panjang tak jauh dari meja candle light diner tadi. Memandang langit bandung yang cerah, bulan sabit dan bintang yang berkelap-kelip.
      Udara dari atas sini sangat segar, tapi rada dingin juga karena aku pake baju lengan terbuka.
      “dingin yah?” tanya kak rendi yang melihatku menggosok-gosokkan telapak tanganku. *untung ga keluar jin :p
      “he.em” aku mengangguk. kak rendi melepas cardigannya dan menyelimutkannya padaku, lalu menarik tubuhku mendekat dan mendekapnya.
      “gimana? Udah hangat?” tanyanya.
      Jantungku berdegup kencang. Kak rendi bukan orang pertama yang menyumbangkan cardigannya untuk menutupi tubuhku, dulu izal juga pernah melakukan hal yang sama, tapi didekap begini… argh,, inimah bukan hangat lagi, tapi panas. Aku jadi nerves begini.
      “eh? he.em” jawabku gugup. “ngomong-ngomong, uda berapa cewe yang kakak ajak kesini?” tanyaku.
      “Cuma kamu.” jawabnya datar.
      “ish, bo’ong yah?” godaku.
      “aku kesini kalo lagi ada masalah. jadi lebih suka dateng sendiri. menurutku, tempat ini nyaman buat nenangin diri, sekaligus bunuh diri kalo uda terlanjur gedeg sama keadaan.” jelas kak rendi.
      “berarti sekarang ini kakak lagi ada masalah dong? tapi kok kesininya bawa aku? jangan-jangan kakak mau ngajak temen buat bunuh diri yah? aku ga mau bunuh diri sama kakak.” aku sotoy.
      “yeey, siapa juga yang mau ngajakin kamu bunuh diri? Aku juga masih betah tinggal di bumi kali, meskipun keadaan disini makin lama makin gila.” Kak rendi mencubit hidungku. “aku kesini buat tujuan lain.” lanjutnya.
      “eh,? tujuan apa?” aku mendongak menatap kak rendi.
      “tujuanku buat nembak kamu.”

To be continue...

.:: Eeniee Meeniiee ::. pt. 16

Drrtttt… drrttt… drrtttt…
      From: Kak Rendi
      Itik kecil  :p

      To: Kak Rendi
      Eh,, ada Kebo :D

      Sekarang aku dan kak rendi punya panggilan baru. Kak rendi manggil aku itik, katanya aku mungil dan gemesin kayak itik. Sedangkan aku manggil kak rendi Kebo. Abisnya dia tukang tidur sih, tiap smsan selalu aja ketiduran.
      Soal hubunganku dengan kak rendi… aku udah pernah bahkan sering bilang kan kalo kita emang deket. Tapi jujur aja ga sampe sedeket ini. mungkin sekarang kita ngerasa lebih bebas. Kak rendi uda putus sama sonia, dan aku sendiri… lupain izal emang bukan hal yang gampang. Tapi, bukan berarti aku bakalan terus berharap sama dia kan?
      Kak rendi orangnya seru. Meskipun ga sekocak izal, tapi sama kak rendi aku ga ngerasa kesepian. Mungkin karena aku kangen sama kehadiran sosok seorang kakak, dan kebetulan kak rendi itu seumuran sama kak theoo jadi aku berasa nyaman. Atau mungkin juga aku mulai…

***

      Tadi kak rendi sms katanya dia sakit dan ga bisa jemput. Jadi,, untuk hari ini aku pulang sama pak ujang lagi *mungkin emang harusnya begini, biar ga makan gaji buta :p
      To: Kak Rendi
      Kakak sakit beneran? Aku pulang sama pak ujang nih…

      Tanyaku memastikan.

      From: Kak Rendi
      Yeey,, dibilangin juga.
      Jenguk dong kalo ga percaya :p

      To: Kak Rendi
      Ga mau ah.
      Takut kena penyakit Kebo gila. :D
      Tar aku ketularan lagi. :p

      From: Kak Rendi
      Ada gitu penyakit kebo gila?
      Tapi, iya juga sih.
      Aku gila mikirin kamu :D
      Ga mau tau. yang penting harus jenguk.
      Aku tunggu. *maksa

      To: Kak Rendi
      :O

      Beneran sakit toh dia. jengukin kak rendi? kayaknya bukan ide yang buruk. Tapi,, enaknya bawa apaan yah? aku ga tau makanan kesukaannya kak rendi. bawain blackforest aja kali yah. semua orang kan suka blackforest. Tapi, kak rendi kan lagi sakit. biasanya kalo jenguk orang sakit orang-orang tu bawa buah. Buah, boleh juga sih. tapi kenapa selalu buah? Emangnya blackforest ga boleh? Kak rendi ga lagi kena penyakit diabet kan? eh, tapi buah vitaminnya lebih banyak deng. ARRGHH galau.
      “pak ujang, mampir ke toko buah dulu yah.” pintaku. Aku putusin buat bawa buah aja. Pak ujang mengangguk. Tak lama kemudian memarkirnya di deoan took buah depan kantor Telkom. Ternyata toko buah itu tetanggaan sama toko kue langgananku. Nah loh, jadi galau lagi deh. Finally,,,
      “pak ujang tolong beliin buah yah. buahnya yang udah di kemas aja biar banyak macemnya. aku mau mampir ke toko kue dulu. ini uangnya.” Aku menyerahkan beberapa lembar uang 50 ribuan lalu pergi ke toko kue.
      Ok. sekeranjang gede buah uda di beli. Blackforest juga uda di tangan. Kenyang-kenyang deh si kebo. Tinggal berangkat. Tapi,,, ya ampun!! Aku kan ga tau rumahnya. Ah,,, bego. Bego. Bego. Jadi nyesel dulu ga pernah mau kalo diajak kak theoo maen ke rumahnya kak rendi.
      Aku uda siap. Dengan skirt miniku dan kaos putih polos yang aku match kan dengan syal becorak bunga-bunga yang senada dengan skirtku.
      Drt…drrt…drrt… hp-ku getar. Ada sms. Aku langsung membuka inbox ku.
      To: Kak Theoo :)
      Komplek Bumi Antariksa, blok C-6 no. 7

Nah. Ini dia yang di tunggu-tunggu. Tadi aku sms kak theoo buat nanyain alamatnya kak rendi. ternyata di Bumi Antariksa yah. eh? bumi antariksa? Bukannya izal juga tinggal di daerah sana? Nah loh. Moga aja ga ketemu.
      ‘ceklek’ pintu kamar dibuka dari luar. Mbok nah masuk. Aku emang memanggilnya.
      “non, ini kunci mobilnya.” Mbok nah menyerahkan kunci mobil yang ku minta dari pak ujang. Berhubung aku bawa keranjang buah yang cukup gede plus sekotak blackforrest, rasanya bakal rempong banget kalo aku naik motor, bisa-bisa ntar dikira pengantar paket lagi. jadi aku bawa mobil aja.
      “ok. mbok bawain buahnya ke mobil yah. aku repot nih.” pintaku. Mbok nah mengangguk. Lalu mengikutiku keluar kamar.
      Aku baru aja melewati pintu masuk komplek bumi antariksa. Ini uda sampe di blok c-6, tinggal cari rumah no 7. Nah, itu dia. rumah besar bercat abu-abu dengan pilar-pilar besar yang menyangganya.
      ‘ting.tung’  aku menekan bel rumahnya. Rada rempong juga dengan dua benda ini. harusnya tadi pilih salah satu aja kali yah.
      Tak lama kemudian pintu kebuka dari dalem.
      “Sofi? masuk yuk.” Sapa kak rendi yang bukain pintu.
      “ish, katanya sakit kok keliatannya sehat wal afiat gitu sih.”
      “hahaha… itu kelebihan aku. biar sakit, tapi tetep keliatan sehat.” kak rendi sok.
      “ya udah. Aku pulang aja deh. Aku kesini kan buat liat kak rendi yang lagi sakit, kalo liat kak rendi yang sehat mah, aku uda biasa.” Aku berbalik.
      “eeeh… mo pulang? Enak aja. khusus buat cewe, jam berkunjung disini minimal 3 jam. Sini, duduk dulu. itu buat aku kan?” kak rendi mengambik keranjang buah dan blackforest-nya dari tanganku. Aku duduk di sofa ruang tamu sementara kak rendi nyimpen dua makanan enak itu di dapur.
      “ke ruang tengah aja yuk, biar lebih santai.” Ajak kak rendi yang sudah kembali. Aku mengangguk.
      “kakak sakit apa?” tanyaku sambil menatapnya lekat.
      “Cuma kecapean aja. sibuk banget di kampus. jadinya drop deh.” Jelas kak rendi sambil merebahkan dirinya di sofa. Aku menyentuh keningnya. Dingin dan berkeringat.
      “kakak keringetan.” Aku menyeka keringatnya dengan tissue yang selalu ada di handbag ku.
      “iya. tadi abis minum obat. Makanya rada enteng. Kamu kok tau rumah aku darimana? Padahal aku belum pernah ajak kamu kesini.” Tanya kak rendi.
      “dari… hatimu.” Godaku. Kak rendi ngakak. “ish,,, kok ketawa sih?!”
      “kamu… hahahahaha… ka… haha… hahahaha… haduh… sampe nangis gini.” Kak rendi mengusap matanya. aku memandangnya aneh. What’s wrong?
      “denger kamu ngegombal lucu. Ga ada pantes-pantesnya tau. dingin banget. bisa beku tuh yang kamu gombalin. Hahaha…” kak rendi ngakak lagi. aku melemparnya dengan bantal sofa.
      “kalo gitu, berarti sebagai guru kakak gagal. Kan kakak yang ngajarin aku. wek” aku ganti meledeknya.
      “ish,, kamu… awas ya…”
      “eh,?” aku menegakkan dudukku begitu melihat wanita cantik berambut pendek seumuran mama, dan laki-laki berbadan tegap kayaknya juga seumuran papa. Loh? Itu kan…
      “papa sama mama udah pulang?” seru kak Rendi yang juga menegakkan posisi duduknya.
      “eh, ada tamu ternyata.” Kata laki-laki yang aku ketahui sebagai om Rudi itu.
      Aku beranjak dari tempatku lalu menghampiri mereka dan mencium tangan mereka.
      “Sofi, kamu kemana aja? kok baru main kesini?” tanya wanita cantik yang kalo ga salah namanya tante Lisna.
      Aku Cuma bisa nyengir. setahuku om Rudi dan Tante Lisna ini kan orang tuanya Izal. kok Kak Rendi manggil mereka papa sama mama?
      “rendi gimana kamu? uda baikan?” tante lisna menyentuh kening kak rendi.
      “udah kok ma, tadi udah minum obat. Trus ada Sofi, jadi lupa kalo lagi sakit.” kak rendi tersenyum nakal.
      ‘ting.tung’ terdengar bunyi bel berbunyi. aku melihat PRT seumuran mbok nah keluar dari dapur menuju ruang tamu.
      “siang om,,, siang tante,,,” seorang cewe muncul dari ruang tamu. Dari suaranya,, kayaknya,,,
      Sonia?  pekikku tanpa suara. Aku melihat sonia juga terkejut melihatku dan kak rendi. Kak rendi juga ga kalah kagetnya. Ini apa-apaan sih? ga ngerti. Pertama, tiba-tiba ada papa dan mamanya izal di rumah kak rendi. kak rendi manggil mereka ‘papa’ sama ‘mama’. trus, tiba-tiba ada sonia disini. ngapain? bukannya mereka uda putus.
      “Sofi?” terdengar suara cowo memanggilku. Ini bukan suara kak rendi, ini suara…
      “Izal?” aku mengernyit memandang izal yang berjalan menuruni tangga.
      “izal!!” aku melihat sonia melambai pada izal.
      Ini ada apaan sih? sekarang tiba-tiba ada izal juga. tunggu, ini ga lagi shooting reality show kan? sumpah, pengen pinsan aja kalo begini mah. Pusing…
      “Rendi, kok Sofinya ga dibuatin minum? Kamu suruh bi nenden buatin minum gih.” Om rudi memecah suasana yang tadi mendadak hening dan tegang. Kak rendi mengangguk lalu berjalan menuju dapur. Tanpa memandang sonia.
      Sonia berjalan mendekat dan mencium tangan om rudi dan tante lisna. Dia ga liat aku sama sekali. Maksudnya apaan tuh? Tiba-tiba badan ku berubah transparan kali yah dimatanya dia.
      “pa,, ma,, izal pergi yah?” izal mencium tangan papa dan mamanya *perasaan scene ini dipenuhi adegan cium tangan deh. Ckckck
      “kamu mau kemana?” tanya tante lisna.
      “mo nganter sonia ma.” Jawab izal singkat.
      “em,, sof,, gue duluan yah.” kata izal kaku. Lalu menggandeng tangan Sonia. membawanya pergi. Sonia mengangguk tanda pamit, lalu mengintil di belakang Izal.
      Kak rendi kembali bersama bi nenden yang mengintil di belakangnya membawakan nampan berisi minuman.
      “ya udah,, sofi, ngobrol-ngobrol sama rendi yah. ga usah sungkan-sungkan. Anggep aja rumah sendiri.” kata tante lisna. Aku mengangguk.
      “kamu kenapa?” tanya kak rendi setelah papa dan mamanya pergi.
      “aku kok bingung ya kak?” jawabku polos. Aku emang udah lama kenal izal. tapi belum pernah main ke rumahnya. Cuma tau dia anak komplek bumi antariksa, itu aja. dan soal kak rendi,,, aku malah baru tau alamatnya dari kak theoo tadi. Sonia ga pernah cerita ke aku. dan aku juga ga pernah nanya. Dulu kalo ngumpul selalu di rumahnya sonia dan aku ga pernah ambil pusing.
      “kak, yang tadi itu papa sama mamanya izal kan? kok kakak panggil mereka papa mama juga? trus, izal kok bisa ada disini?” tanyaku pada kak Rendi. lebih mirip ngintrogasi sih sebenernya.
      “hem,,, gimana yah ceritanya? Yea,, intinya… izal itu adik aku.” jawab kak rendi santai sambil menyandarikan dirinya di sofa.
      “Izal adik kakak?? kok bisa?? adik… kandung??” tanyaku shock. soalnya Baik izal atau pun kak rendi, mereka ga pernah cerita soal keluarganya. Soal kakak ato pun adiknya. Jadi, yang salah disini tu sebenernya siapa sih? aku yang ga pernah nanya ato pereka yang ga pernah cerita? Oh, God. Ternyata dunia ini sempit.
      “ya… adik kandung.” Jawab kak rendi singkat.

***

      “Sofi sering ke rumah lo?” tanya sonia yang baru saja selesai latihan vocal dan duduk di samping izal yang sedari tadi menunggunya latihan.     “engga juga. gue baru pertama ini liat dia dateng ke rumah.” Jawab izal cuek dan tetap fokus pada majalah yang dibacanya.
      “dia jadian sama rendi?” tanya sonia hati-hati. Izal langsung menutup majalahnya dan menatap sonia tajam. Sonia menunduk, tak berani membalas tatapan izal.
      “lo kenapa sih putus sama rendi segala? Bikin masalah aja.” kata izal. lalu beranjak dari tempatnya. Sonia meraih handbagnya lalu mengintil di belakang izal.
      Di sepanjang perjalanan, sonia ga banyak bicara. Entah kenapa dia jadi kepikiran rendi dan Sofi. rendi,,, ini pertemuan pertamanya pasca putus. Meskipun sonia sering keluar masuk rumah izal, tapi dia ga pernah ketemu. Ya baru kali ini nih, dan ada sofi juga disana. Rendi lagi sama sofi. apa mereka beneran jadian? Dan izal,,, dia jutek lagi sekarang. cemburu kah?

***

      “rendi, bagaimana hubunganmu dengan Sonia?” tanya mama. akhir-akhir ini mama memang hawatir. Sonia yang dia tau adalah pacar Rendi, sering datang ke rumah tapi untuk menemui Izal. dan tadi dia melihat Sofi yang dekat dengan Rendi, padahal selama ini Sofi dekat dengan Izal.
      “eh? Sonia?” tanya rendi yang baru saja menyeruput air putih dari gelasnya. “soal sonia kenapa mama ga tanya sama Izal aja?” rendi memandang izal yang sedang mengaduk-aduk makan malamnya tak bersemangat.
      “Izal?” gumam mama tak mengerti. rendi mengangguk.
      “rendi uda putus sama Sonia ma, sekarang Sonia pacarnya Izal.” jelas rendi santai.
      “apa? Benar negitu izal?” tanya mama kaget. Izal langsung berhenti mengaduk makanannya.
      “eh, apa?” tanyanya bingung.
      “kata kakakmu, kamu pacaran sama Sonia? benar begitu?”
      “oh, emh… ya,, bisa dibilang begitu…” jawab izal gantung.
      “lalu sofi? bukannya kamu selama ini dekat dengan dia?” tanya mama lagi.
      “mama tanya aja sama dia.” izal melirik rendi sinis.
      “rendi?”
      “um,, sebenernya aku akhir-akhir ini sering jalan sama sofi. mungkin bentar lagi jadian.” Kata rendi yang terdengar lebih mirip kompor yang siap membakar izal. dan terbukti. Izal langsung menatap tajam rendi.
      “Cukup!! Rendi, Izal. mama ga ngerti, kenapa sih kalian jadi tuker-tukeran begini? mama ga masalah, kalian mau sama Sonia ato Sama Sofi. asal kalian jangan permainkan perasaan mereka. dan yang paling penting, mama ga mau kalian berantem lagi gara-gara masalah perempuan. Ngerti!!” kata mama tegas. Rendi mengangkat kedua alisnya. Sementara izal kembali mengaduk-aduk makan malamnya. Mama beranjak dari meja makan meninggalkan mereka berdua.
      “maksud lo apa deketin sofi, eh?” tanya izal dingin.
      “maksud gue pengen jadiin dia pacar. Gue suka sama dia. kenapa emang?” jawab izal sinis.
      “gue ga suka lo deket-deket dia.”
      Rendi tersenyum sinis mendengar ucapan adiknya.
      Kena lo. baru segini aja uda panas. Tunggu tanggal mainnya. Coming soon.

***

      Akhirnya aku memutuskan buat ikut audisi solois itu. susan maksa terus sih. aku bener-bener ga ngerti kenapa dia bisa kekeh banget nyuruh aku buat jadi solois. Susan emang aneh dan ga bisa di tebak. Tapi dia baik. setelah aku pikir-pikir lagi, toh ga ada ruginya juga kalo aku ikut audisi ini. kepilis syukur, engga juga ga bakal kecewa. Toh ga pengen-pengen banget.
      Hari ini hari terakhir pengumpulan formulirnya. susan menawarkan diri untuk mengumpulkan formulirku ke ruang OSIS. Tapi aku menolak. Aku ga enak sama dia. dia uda banyak kerja keras. Ibaratnya kalo aku ini artis, susan ini managerku yang pontang-panting nyariin job buatku. Nah, masi untung kalo manager, se’ga-nya dia di gaji, nah kalo Susan. Apa untungnya? Kalo aku sih, asik-asik aja, asal itu ga merugikan buatku.
      “akhirnya. Lo ikut juga audisi itu. seneng deh.” Seru susan lalu duduk di kursinya. Aku duduk di kursiku. Aku dan susan baru aja ngumpulin formulir itu di ruang OSIS.
      “kok jadi lo yang seneng yah? perasaan gue yang mo ikut audisi biasa-biasa aja tuh. Gue curiga, jangan-jangan hati kita ketuker lagi.” aku ngaur.
      “engga juga. gue seneng aja kalo liat lo sukses. Tar juga lo tau sendiri.” kata susan misterius. Aku mengernyit. Izal dan sonia baru saja melewatiku. Sepertinya sonia bawa formulir juga. okelah, dulu di smp dia sempet nyoba dan ternyata kurang beruntung, mungkin dia masih penasaran buat coba lagi. ok, kayaknya kita resmi jadi rival nih. aku tersenyum sinis.
      Oh, ya. sejak pertengkaran itu, sonia milih pindah tempat dan duduk sebangku sama Suci di belakang. Sedangkan Lala, teman sebangku Suci, duduk sama aku. tapi ga tau kenapa beberapa hari kemudian ganti susan yang duduk disampingku. Tapi, aku sih ga masalah. mo duduk sama siapa aja, mereka semua kan temen. Nah, sejak sebangku sama susan, aku juga jadi deket sama dia.
      “kayaknya mereka tambah deket aja.” gumam susan sambil menatap punggung sonia dan Izal.
      Aku diam. tapi kalo dipikir-pikir emang bener sih. dulu izal kayaknya kepaksa banget kalo diajak sonia, bahkan sampe berantem karena izal yang ga mau sedangkan sonia yang terus maksa dengan alasan ‘lo cowo gue’. tapi sekarang, izal keliatannya lebih santai. Meskipun kadang masih terlihat ogah-ogahan, tapi dia lebih tenang ngadepin sonia. buktinya waktu di rumah izal kemaren, izal dengan santainya bilang mo nganter sonia. terus mereka gandengan gitu. Sakit banget liat izal kemaren. Tapi,,, stop. Ga perlu diinget-inget lagi. lupain!

***

      Hari ini ga ada kuliah, tapi bosen juga kalo di rumah terus. Rendi memutuskan untuk pergi ke lalala café, kalo ga salah, marco juga free hari ini. dia butuh bantuan marco, makanya hari ini juga mereka harus ketemu. Karena bagi rendi, lebih cepat, lebih baik.
      “gue butuh bantuan lo nih.” rendi menyenderkan dirinya di sofa sudut café.
      “bantuan? Apaan?” tanya marco yang duduk di samping rendi sambil asik memainkan gadget nya.
      “lo tau gedung bekas mall di pinggir kota itu?” tanya rendi. marco tampak berfikir sejenak lalu manggut-manggut.
      “iya. kenapa? lo mau beli bangunan itu buat bangun distro lagi?”
      “bukan bego. Jadi gini…” rendi membisikkan rencananya pada Marco. Marco tampak kaget tapi rendi mencoba meyakinkannya. “gimana?” tanya rendi.
      “ok. itu gampang. Nanti malem pasti beres.”


to be continue...

.:: Eeniee Meeniiee ::. pt. 15

“Sofi?” Izal mengernyit melihat sofi yang datang bersama Rendi. jantungnya berdegup kencang. Udara sekitar berasa panas. Ada kemarahan yang tak bisa di jelaskan dengan kata-kata. Cemburukah itu?
      Handuk basah tiba-tiba mendarat di kepala Izal. dan sukses mengalihkan perhatian Izal dari Sofi dan Rendi di depan sana.
      “apa-apaan nih?” izal mengambil handuk basah dari kepalanya.
      “maaf kak,, abisnya… dari kepala kakak keluar asep. Jadi aku lempar itu aja.” kata kana takut-takut.
      “ish… lo mah. Emangnya gue ini kompor meleduk apa? Di lemparin handuk basah begini.!” gerutu izal Be-Te.
      “kana,,, bak mandi di toilet kering, gimana nih? ga ada air?” kata sinta yang tergopoh-gopoh mendekati kana dan izal.
      “eh? air buat apaan??” tanya izal bingung. Kana dan sinta menatapnya. Seketika itu juga Izal tersadar. “Ah, rese lo berdua. Kenapa ga sekalian aja lelepin gue di sumur, eh?”
      “disini ga ada sumur kak. Adanya closet. Kakak mau di ceburin kesana? Ayo, aku anterin kalo kakak mau.” Kata sinta yang polos ikut-ikutan manggil izal kakak.
      “ye,,, lo berdua aja sini. Gue ceburin satu-satu. Yang satu masuk closet, yang satunya lagi masuk wastafel, biar adil.” Cibir Izal.
      “yeeey,, kita kan ga lagi cemburu kak. Makasih deh,,, ga usah repot-repot nyariin yang adem-adem.” Ledek Kana.
      “ish,, emang tampang gue ini keliatan kayak tampang orang cemburu apa?! Liat nih baik-baik, ada tampang orang cemburu ga?!” izal menunjuk wajah gantengnya yang udah semu-semu merah kuning ijo, kayak lampu lalu lintas. Loh kok?
      Sinta dan Kana dengan polosnya mendekatkan wajahnya ke wajah izal, memperhatikan setiap lekuk wajah sempurna miliknya.
      “hussshhhh… udah-udah!!” izal mengibas-ibaskan tangannya di depan wajah kana dan sinta. Dia keki dipandangi seperti itu. toh kenyataannya dia emang cemburu.
      “nih!!” rendi melemparkan sepatu Footsall marco dari tangannya. HUP. Dengan sigap marco menangkapnya.
      “selamat yah. sepatu bau lo itu sukses bikin satnite gue be-ran-ta-kan!!” omel Rendi. Marco nyengir. tapi ekspresinya berubah ketika dia melihat cewe yang datang bersama Rendi.
      “loh Sofi yah?” tanya marco ragu.
      “iya. em,, kakak siapa yah?” tanya Sofi tak kalah ragu.
      “gue marco. Pemilik lalala café, temennya Izal. dulu kita pernah ketemu disana.” Marco mengingatkan.
      “oh, pantesan. Kayak pernah ketemu.” Gumam Sofi seraya mengingat pertemuannya dengan Marco beberapa waktu lalu.
      “lo ga pengen ketemu izal? dia juga disini.” marco menunjuk ke arah lapangan.
      “em… aku…”
      “Sof, uda hampir jam 8 nih, bentar lagi filmnya mulai.” Rendi memotong kalimat Sofi. sofi melirik jam tangannya. dan memang benar. Waktu sudah menunjukkan pukul 7:50 pm.
      “wah, iya. ya udah. Kita pergi sekarang aja yuk kak.” Ajak Sofi. dia senang punya alasan untuk menghindari Izal. rendi mengangguk.

      ***

      Kak rendi menjalankan mobilnya dengan kecepatan tinggi. 5 menit lagi filmnya di mulai sementara mall nya aja masih jauh banget. sekitar 10 menitan lagi dari daerah ini.
      “SHIT!! Lampu merah!!” umpat kak rendi.
      “udah lah kak. Toh, kalo pun jalan, kita juga tetep telat datengnya.” Kataku seraya melirik jam tanganku lagi.
      “yah. berarti acara nontonnya di cancel nih. terus kita kemana sekarang?”
      “gapapa. Kan bisa beli DVD-nya.” Jawabku santai. Tadinya aku dan kak rendi berencana nonton Final Destination 5, rada lega juga sih acara nontonnya gagal. Soalnya aku bisa terhindar dari bencana kelaparan. Loh apa hubungannya? Yea,, kalo aku jadi nonton film itu, di jamin ga bakal nafsu makan selama 3 hari 3 malem, gara-gara geli liat darah plus organ dalem yang berceceran karena kecelakaan tragis di film itu.
      “kak, kita turun disini aja yuk.” Pintaku, begitu sadar mobil kak rendi berhenti di lampu merah utara town square.
      “eh? maksud kamu town square?” tanya kak rendi heran. Aku mengangguk.
      “aku bosen kak sama pemandangan di mall. Sekali-sekali, aku pengen rasain jalan-jalan dan nikmati angin malam di sini. Kayaknya asik.” Aku memelas.
      “oke lah. Kalo emang itu mau kamu. kita parkir dulu yah.” kata kak rendi yang setuju dengan permintaanku. Lalu menjalankan mobilnya mengelilingi area town square mencari tempat parkir yang masih kosong.
      Kak rendi membukakan pintu untukku. Aku turun dan tersenyum seraya berterima kasih padanya.
      Aku melakukan hal yang sama seperti yang aku lakukan beberapa hari lalu. Di sini. Di tempat dan waktu yang sama. Hanya saja dengan keadaan dan seseorang yang berbeda.
      Entah ini kebetulan ato emang takdir, kak rendi memarkir mobilnya di tempat yang sama dengan izal waktu kesini sama aku dulu. aku inget banget tempat parkir ini. aku sendiri yang memilihnya.
      ‘disini yang parkir Cuma dikit, jadi ntar keluarnya gampang.’ Kataku sambil menunjuk ke area parkir di bawah pohon cemara bersebrangan dengan pintu masuk gedung pemerintahan.
      ‘iya,,, iya,, bawel. Ini juga lagi parkir nih.’
      Aku teringat kembali beberapa potongan dialogku dan izal. dulu, waktu turun dari mobil izal, hal pertama yang aku liat adalah stan penjual permen kapas yang ada di ujung town square, posisinya persis tegak lurus dengan tempatku berdiri. Sekarang stan itu uda ga ada. mungkin karena bazaar nya uda selesai, jadi stannya juga pindah.
      “ayo jalan!” kak rendi menggandeng tanganku. Aku menurut dan mengikuti langkahnya. “trus, kita ngapain nih?” tanya kak rendi sambil garuk-garuk kepalanya yang ga gatal. Aku tau dia bingung.
      Aku sendiri juga bingung. Town square emang ga semenarik mall. Biar pun sama muter-muternya, kalo muter-muter di mall banyak barang yang bisa di beli ato sekedar diliat waktu lagi jalan, nah kalo di town square, isinya Cuma orang-orang yang lagi berduaan. Yea,, ga semuanya sih. ada juga yang lagi jalan sama keluarganya, ato anak-anak muda yang lagi nongkrong lesehan di warung kaki lima sambil dengerin live music dari pengamen yang hinggap dari warung ke warung.
      “em,,, kita jalan aja deh. Sambil nyari tempat yang asik buat duduk…” Jawabku ngambang.
      Dulu waktu kesini sama izal ga sebingung ini mikirin mo lakuin apa, soalnya aku langsung ecited sama permen kapas, begitu turun langsung ngajakin izal ke stan penjualnya, dan diperjalanannya juga banyak hal menarik yang bisa di lakuin. Mulai dari nyobain bando-bando lucu di stan asesoris, foto box, sampe-sampe izal yang tiba-tiba naik ke panggung live music buat nyatain perasaannya sama aku. sayangnya waktu uda sampe di stand dan dapetin permen kapasnya, ceritanya tiba-tiba berubah dan ga jelas alurnya. Aku yang di tembak izal, tapi malah sonia yang jadian sama izal. siapa coba yang gila? Izal? ato penulisnya?
      “emmmmh… hemmph…”
      Kak rendi menarik nafas panjang. Mungkin dia bosan. Kita Cuma jalan muter-muter doang dan ga ada yang bicara satu sama lain. kak rendi ga ngajakin aku ngobrol, sementara aku sendiri masih asik banget mengenang semua tentang izal. ga dosa kan kalo aku mengenang izal sebelum aku melupakannya? Hem… makanya aku ngajakin kak rendi ke town square ini. karena menurutku,,, disinilah puncak semua kenangan berhargaku sama izal yang sebentar lagi bakal ku buang jauh-jauh. *Beh,,, bahasanya ancur banget. geli gue nulisnya.
      “Sofi, aku bosen nih…” kak rendi angkat bicara. Aku sadar, mungkin aku terlalu lama nyuekin makhluk manis ini. ya sudah. Lupain izal. dan mulai nenikmati satniteku bersama kak rendi. jangan ganggu yah. ;)

***

      “hai, boleh gue duduk disini? meja yang lain udah penuh.” tanya seorang cewe. Aku yang lagi asik sendiri muter-muter sedotan di gelasku langsung mendongak menatap cewe itu.
      “eh, Laloan. Boleh kok. Asal ga minta duduk di pangkuan gue.” jawabku santai.
      “guys!! Sini nih, sama Sofi.” teriak laloan sambil menunjuk ke tempatku. Aku menoleh ke belakang, ternyata ada dementor yang lainnya juga. Troy dan Regi terlihat sedang memesan makanan, sedangkan Tifani sudah menerima nampan berisi makanan pesanannya dan berjalan kearahku.
      “Hai Sofia, gue gabung sini yah.” sapa tifani sambil meletakkan nampannya dan duduk di sampingku. Laloan juga melakukan hal yang sama, tapi dia duduk di depanku.
      “ngomong-ngomong kok lo sendirian aja.? biasanya sama Sonia?!” tanya Laloan polos sambil menambahkan saus diatas mi ayamnya.
      “oh… em… kebetulan gue lagi pengen sendiri ajah.” aku bohong. padahal Aku sama sonia kan udah…
      “… troy, lo jorok banget sih. tangan lo tu kotor. Sana minta handyclean dulu sama Laloan!!”
      Terdengar suara orang yang lagi debat dan makin yang makin lama makin deket sumbernya.
      “apaan sih?! gue ini laper tauk. Acarnya enak nih.”
      Laloan dan tifani memandang lurus melewatiku, sambil geleng-geleng kepala. Ternyata Troy dan Reg yang sedang memperdebatkan sesuatu yang ga penting.
      Troy duduk dikursi depanku, sebelah kiri laloan, dan Reg di sebelah kanannya.
      “kebiasaan nih, yang satu ibu hamil, yang satu ibu RT, kalo bareng pasti riweh. Belum aja makan, uda Kenyang gue denger lo-lo berantem.” Cibir Laloan.
      “troy tuh, jorok. Tau tangan banyak kumannya. Maen comot sembarangan!” Reg membela diri sambil menghirup jus nya.
      “elo aja yang rese. Orang yang gue comot makanan gue ini. ngapain lo yang bawel.” Gerutu troy yang langsung menyuapkan sesendok penuh nasi goreng ke mulutnya.
      “sssttt!! Udah. Udah. Klo mo berantem jangan Cuma adu mulut. Sono noh, tinju-tinjuan sekalian. Bonyok-bonyok deh. Tar gue sama Laloan tinggal ngetawain aja. ato ikutan ninju biar muka cakep lo berdua bonyok sempurna.” tifani angkat bicara.
      Aku Cuma bisa senyum liat tingkah para dementor yang ada dihadapanku ini. kompak dan rame. Begitulah mereka.
      “kenapa lo ketawa-ketiwi?!” tegur Reg.
      “si sofi enek tuh liat lo.!” kata troy yang tiba-tiba konek.
      “maklumin aja ya sof. Karena kita dementor, jadi kita suka buat orang ga nyaman kalo deket-deket kita. Gara-gara asik sendiri. selamat yah. anggep aja kita ga ada.” kata laloan.
      “ga papa kok, La. Kalian lucu. Baru tau kalo dementor koplak begini.”

***

      “… gimana yah jelasinnya.” Laloan berfikir sejenak.
      “jadi gini. Mungkin,, kita emang beda. Karena beda kita jadi sering berantem. Tapi meskipun sering berantem kita ga pernah musuhan. Malah, gara-gara sering berantem itu kita jadi kangen kalo ga ketemu. Dan pengen bareng-bareng terus.” Jelas tifani.
      “singkatnya, perbedaan yang menyatukan kita.” Timpal Reg sambil menyilangkan sendok dan garpunya diatas piring tanda dia telah selesai dengan makan siangnya.
      “intinya perbedaan itu buat kita jadi sempurna. kita punya kelebihan yang bisa nutupin kekurangan mereka, dan karena kekurangan itulah kita jadi ngerasa butuh satu sama lainnya.” Kata troy bijak.
      “bener tuh. Misalnya kayak troy nih, dia kan yang paling cerdas diantara kita-kita, makanya kalo ada ulangan ato pelajaran yang ga ngerti, kita selalu minta diajarin sama dia.” kata laloan sambil mengerlingkan matanya melirik troy.
      “gue tu dulunya angkuh dan individualis. Menurut gue temen itu ga penting. Asal kita punya cowo, menurut gue semuanya uda terwakili. Mulai dari perhatian, temen hang out, temen sms-an. semuanya uda cukup gue lakuin sama cowo gue aja. Tapi cara pandang gue berubah waktu gue ketemu sama laloan. Ternyata punya temen tu asik. Ada kenyamanan tersendiri yang bisa gue rasain waktu bareng temen-temen gue yang ga bisa gue rasain waktu sama cowo gue. apalagi waktu uda deket sama troy dan Reg. hidup gue jadi lebih berwarna.” Tifani bercerita panjang lebar.
      “gue itu pemikir dan ga suka nglakuin hal yang menurut gue ga penting. Dulu, gue Cuma bertemen sama anak yang sealiran sama gue. yang sama-sama doyan footsall, yang hi-tech, yang standar intelektualitasnya tinggi. Gue ga suka cewe playgirl, gue juga males kalo ada cewe yang manja-manja sama gue, dan gue paling benci di kritik…” troy memulai ceritanya dengan gayanya yang khas sambil melirik tifani, Laloan, dan Regi bergantian. “tapi,,, setelah gue kenal sama tifani, gue jadi ngerti apa-apa aja yang dibutuhin seorang cewe dari cowonya, gue juga jadi sadar kalo sering gonta-ganti pacar itu bukan berarti player dan brengsek. Hidup ini pilihan dan kita berusaha nyari yang terbaik buat diri kita. Jadi ga dosa dong kalo kita ganti-ganti pacar. Kalo kita ga cocok, masa mau tetep di pertahanin? Soal Laloan sama Reg, mekipun Laloan itu sering manja-manja sama gue, dan Reg sering banget ngritik gue, tapi mereka itu care banget, dan gue ga bakal bisa sekeren ini tanpa laloan yang selalu jadi stylish gue dan reg yang selalu ngritik penampilan gue kalo gue jelek.”
      “jujur, ngerasa sebel sama sikap mereka yang ga cocok buat gue. beberapa masalah, mungkin sempet bikin gue muak dan pengen keluar dari geng ini. tapi gue takut kehilangan mereka. gue takut ga bisa nemuin temen se-gila mereka. mungkin yang kayak gitu yang disebut ‘butuh’.” Reg ikut melengkapi cerita teman-temannya.
      Aku senyum-senyum sendiri mengenang cerita para dementor itu. mungkin emang bener. Kalo ‘perbedaan’ lah yang ‘menyatukan’ kita. Dulu, aku sama sonia juga beda. Sonia yang hitam manis, dengan rambut ikalnya yang selalu di kepang dua. Sonia yang ceria dan selalu membuatku tersenyum. sonia yang pemalu dan ga PD kalo ada cowo yang deketin dia, dan ujung-ujungnya aku yang jadi makcomblangnya.
      Sekarang, mereka bilang aku dan sonia sama. Aku tau apa yang mereka maksud sama. Secara fisikly, bisa dibilang sonia yang dulunya itik manis, telah berubah menjadi angsa cantik. tapi persamaan itu justru menimbulkan persaingan diantara kita. Aku ga benci sonia. dan aku juga ga pernah menganggapnya saingan. Aku ga marah sekalipun dia ngambil izal dariku. Aku sih asik-asik aja jadi orang. Tapi kayaknya itu ga berlaku buat Sonia. Ya udah. Peduli amat deh. Amat aja ga peduli.

***

      “Sof, gue punya sesuatu buat lo.” kata susan yang tiba-tiba sudah duduk di sampingku. Nih anak manusia apa bukan sih? munculnya tiba-tiba mulu.
      “apa?” tanyaku datar. sambil menggeletakkan kepalaku dimeja.
      “nih…!” susan meletakkan selembar kertas yang terlihat seperti sebuah formulir. Aku terpaksa menegakkan tubuhku untuk melihat kertas itu, yang ternyata emang formulir.    
      “Formulir pendaftaran audisi solois?” aku mengernyit membaca judul formulir itu. susan mengangguk. Semangat bener. Sampe ngeri litany. Takut kepalanya copot.
      “gue antri panjaaaaaang banget buat dapetin formulir ini. buat lo.” jelas susan antusias.
      “buat gue? emang gue minta?”
      “yea engga sih. ini Cuma ide gue aja. suara lo kan bagus Sof, kalo ikut audisi pasti kepilih deh, apalagi dulunya waktu smp lo juga solois.”
      “tapi, gue ga minat.” Aku meletakkan kembali formulir itu.
      “yah lo mah… lo harus ikutan sof. Gue uda berkorban, masa respon lo Cuma segini aja. gue ga mau tau pokonya lo harus ikut.!!”

***

      “yeeeey… gue uda dapet formulirnya.” Sonia tersenyum puas lalu menghampiri izal yang menunggunya di gazebo depan ruang OSIS.
      “lama banget sih.” protes izal sambil beranjak dari tempatnya.
      “ya maaf. Yang antri rame gitu.” Sonia mengintil di belakang izal
      “emangnya formulir apaan sih?”
      Sonia menyerahkan formulirnya pada izal.
      “audisi solois?” izal melirik sonia. sonia mengangguk semangat.
      “gue pengen banget jadi solois. Lo tau kan, Dulu waktu smp gue pernah ikut audisi juga, tapi gue Cuma lolos buat jadi anggota.” Kenang sonia getir.
      “ga heran. Lo yakin bisa lolos? Suara lo kayak kucing kejepit gitu. meong… meong… meong… meoooong.” Goda izal.
      “ish, lo apaan sih.” sonia mencubit lengan izal. “zal,,,”
      “hem,,,”
      “makasih yah. udah baik lagi sama gue. gue seneng kita bisa ketawa bareng lagi.” kata sonia tulus.
      Izal hanya tersenyum.
      Flashback on:
      “siang tante… izalnya ada?” sapa sonia setelah mama membukakan pintu untuknya.
      “eh, Sonia. ayo masuk. Izal masih tidur. Biar tante bangunkan dulu.” kata mama yang berjalan menuju tangga.
      “em,, tante, aku aja yang bangunin. Boleh?” tanya sonia.
      “ya sudah. Kamu langsung aja ke kamarnya. Pintu sebelah kanan.” Mama menunjukkan kamar izal. sonia mengangguk.
      Sonia memasuki kamar izal. si pemilik kamar masih tertidur pulas di singgasana empuknya.
      “izal… hey…!!” sonia menepuk pipi izal.
      “huaaaahhhhhmmmmm…” izal menggeliat malas. Tapi masih merem. Sonia menggeleng. Dan…
      ‘cup’ sebuah kecupan mendarat di pipi izal. spontan izal langsung melek.
      “sonia? apa-apaan lo? lo cium pipi gue?!”
Sonia teersenyum nakal lalu mengangguk.
      “ah, rese lo. main cium sembarangan. Gue ga pernah di cium cewe selain nyokap gue tauk!!” protes izal sambil menggosok-gosok pipinya.
      “sekarang udah kan? lagian, lo nya di bangunin ga bangun-bangun. Gue cium aja. eh, ternyata manjur.”
      “ish, kenapa lo yang bangunin gue? nyokap gue kemana?” tanya izal sambil melakukan beberapa gerakan pemanasan di balkon kamarnya.
      “ada kok. Sengaja gue yang minta. Gue kan cewe lo. ga masalah kan.” sonia beranjak dari sisi tempat tidur izal dan berjalan ke balkon menatap langit minggu yang cerah. “zal, cerah gini. Jalan-jalan yuk. Tadi malem kan kita ga satnite.” rengek sonia.
      “engga ah. Males. Cape gue. lo pulang gih. Ato sana, jalan sama rendi aja.”
      “ye,, lo mah, diajakin jalan, malah nyuruh cewenya jalan sendiri ma mantannya. Aneh lo.” sonia cemberut.
      “gue emang begini. siapa suruh mau jadi cewe gue.” kata izal jutek lalu kembali ke kamarnya.
      “kalo sofi yang jadi cewe lo, apa lo bakalan tetep jutek begini? kalo sofi yang ngajak jalan, pa lo bakalan nolak juga?” tanya sonia sinis. Izal diam, dia lebih suka menggonta-ganti chanel tvnya secara acak.
      “lo kenapa sih zal? sejak kita jadian lo malah berubah. Dulu lo baik sama gue. tapi kenapa sekarang lo jadi kasar? Kenapa lo selalu jauhin gue? kenapa sih lo ga bisa lembut sama gue kayak sikap lo yang selalu lembut sama sofi?” suara sonia mulai meninggi.
      “karena lo bukan sofi.” timpal izal dingin. masih asik memencet-mencet remote control tv-nya, ganti-ganti chanel ga jelas.
      “trus kenapa kalo gue bukan sofi? salah kalo gue suka sama lo? salah kalo gue pengen lo jadi cowo gue? kenapa sih selalu Sofi, sofi,, dan sofi.” mata sonia berkaca-kaca, suaranya parau menahan tangis.
      Izal bangkit dari kursinya dan mendekati sonia. “gue kecewa sama lo. gue ga suka cara lo dapetin gue. kenapa sih lo bisa sejahat itu sama sofi?”
      “gue sebel sama dia zal. gue iri sama dia, dia selalu dapetin apa yang gue mau, bahkan yang dia ga maupun bisa dia dapetin. Waktu smp gue sahabatan sama dia. kemana-mana kita bareng. Tapi siapa yang orang liat dan kenal? Sofi. Sofi yang cantik. Sofi yang pinter. Sofi yang modis. Sofi yang lucu. Sofi yang baik. sedangkan gue, mereka Cuma kenal gue sebagai ‘temennya Sofi’. gue benci sama dia karena dia selalu ngrebut apa yang gue mau. Dulu gue ikut audisi solois, susah payah latihan, bolak-balik ikut audisi, tapi apa yang terjadi? Sofi dengan gampangnya bisa ngambil posisi solois itu. Cuma sekali audisi, dia langsung jadi solois sedangkan gue Cuma jadi member. sebagai pelajar, gue belajar mati-matian, les siang malem, gue catet semua omongan guru, gue pengen jadi juara kelas, tapi malah sofi yang dapetin tempat itu. sofi yang ga pernah les apapun, sofi yang bahkan waktu di terangin guru dia malah asik sendiri sama dunia mayanya.  Ok. gue bisa terima itu, tapi yang paling gua ga bisa terima dari dia, dia rebut semua cowo yang gue suka. Namanya Riko. Gue sayang banget sama dia. gue suka dia. sofi janji sama gue mo comblangin gue sama Riko, dan dia emang nepatin janjinya. Gue sama Riko mulai deket, tapi lo tau yang terjadi? Riko nembak sofi di depan mata kepala gue sendiri. ternyata riko deketin gue Cuma buat nyari info tentang Sofi. gue benci zal. gue sakit hati.” Tangis sonia pecah.
      “gue cape. Gue uda muak hidup dalam bayang-bayangnya dia. gue pengen dikenal sebagai Sonia. Sonia yang cantik. Sonia yang Sempurna yang hidupnya jadi mimpi semua orang. Sonia yang bisa berdiri sendiri. Sonia yang bisa popular tanpa embel-embel ‘temannya Sofi’. waktu itu, gue cewek item dengan rambut brekele. Gue ga mungkin populer dengan tampilan kayak gitu. Gue ga mau kalah lagi dari Sofi. gue pergi keluar negri. Gue lakuin operasi dan perawatan sampe akhirnya gue bisa sesempurna ini. gue berhasil dapetin yang gue mau. Popularitas, cowo, semuanya. gue dikenal sebagai Sonia, meskipun gue masih temenan sama Sofi. bahkan gue lebih dikenal daripada dia. gue bahagia. Tapi gue belum puas. gue belum bales tentang Riko.” Sonia sesenggukan. Mengenang masa lalunya yang miris. Matanya penuh kebencian yang sembab menatap tajam penuh kebencian.
      “gue lulus SMP dengan dendam yang belum kebales. Ternyata gue sama sofi keterima di SMA yang sama. Kita masuk dan langsung terkenal sebagai dua orang yang perfect. Dua orang yang mereka sebut ‘sahabat’. Padahal kata itu udah busuk sejak lama. Tapi gue sama sofi tetep pake topeng itu. menurut gue, mereka ga perlu tau borok yang gue simpen. Bahkan sofi sendiri ga pernah sadar dia udah nyiptain borok yang busuk dihati gue. lo inget waktu pertama kali kita ketemu? Waktu MOS di lapangan basket sekolah, kita sama-sama lagi dihukum keliling lapangan. Sejak pertama, gue udah suka sama lo. gue seneng kita bisa jadi temen deket. Tapi, gue ga tau gimana bisa sofi deket juga sama lo. sofi emang tertutup dan dia ga pernah cerita tetang hubungannya sama cowo, tapi gue tau, sofi suka sama lo. dan gue liat lo juga suka sama dia. sejak saat itu, gue berusaha keras buat dapetin lo. gue ga mau sofi ngrebut cowo yang gue suka lagi. bisa dibilang gue sama sofi tu sama-sama munafik, di depan aja senyum-senyum, pura-pura buta dan bego seolah-olah ga tau dan ga liat apa-apa, padahal sebenernya gue bersaing sama dia buat dapetin lo, gue tau dengan miliki lo, gue bisa bahagia, bukan Cuma bahagia karena miliki lo, tapi karena dendam gue juga akhirnya kebales. dan sekarang gue bener-bener bahagia. Meskipun gue car ague buat miliki lo curang. Tapi gue bahagia lo jadi milik gue.” sonia tersenyum sinis dalam tangisnya.
      “jadi, lo Cuma manfaatin gue buat bales dendam, gitu?” suara izal gemetar saking marahnya.
      “engga zal. gue bener-bener suka sama lo. gue ga pernah punya niat buat manfaatin lo. gue beneran sayang sama lo. lo jangan salah faham.” Sonia menggenggam tangan izal.
      “sonia,,, lo bener-bener bikin gue stress!!!” izal menarik tangannya dan duduk di sofa, di sudut kamarnya. Sonia duduk disampingnya.
      “zal, lo jangan marah sama gue. gue jelasin itu semua, itu alasannya kenapa gue benci sofi. gue cape zal. gue Cuma pengen bahagia. Gue Cuma pengen kayak dia. bisa dapetin semua yang dia mau. Bisa disayang sama cowo yang juga sayang sama dia. gue iri sama dia zal.” sonia sesenggukan.
      “lo salah faham sonia. lo ga ngerti. Lo terlalu picik dan munafik buat nerima keadaan. sofi begitu emang udah takdirnya dia. mungkin dia emang terlahir buat jadi orang yang beruntung. Soal usahanya dia, yea siapa yang tau. lo juga ga masang CCTV dikamarnya dia kan? Lo juga ga nyewa detektif buat nyelidiki kegiatannya dia kan? trus darimana lo tau dia bisa dapetin prestasinya secara instan? Dan soal Riko itu, kalo emang sofi ngrebut dia dari lo, bukannya harusnya sofi nerima riko waktu di tembak? Tapi kenyataannya? Mereka ga pacaran kan. jadi yang namanya merebut dan direbut itu ga pernah ada. emang dasar rikonya aja yang brengsek. Dia ngasih harapan palsu sama lo.” timpal izal. sonia diam.
      “semua orang punya takdirnya sendiri-sendiri sonia. menurut gue, lo cewek baik. makanya gue mau deket sama lo. dan gue kecewa banget waktu tau lo begini. itu ga pantes buat seorang sonia.” izal mengusap air mata di pipi sonia.
      “gue Cuma pengen kita kayak dulu lagi zal. gue pengen lo baik lagi sama gue kayak dulu. gue sedih dikasarin terus sama lo. gue tau cara gue dapetin lo salah. Tapi gue ga mau lo dimiliki orang lain. gue tau gue egois, tapi apa gue salah kalo gue suka sama lo? dosa ya kalo seorang sonia suka sama lo? apa yang halal buat suka sama lo Cuma sofi doang? Lo benci ya zal sama gue?” tanya sonia hati-hati.
      “gue ga benci sama lo. gue cuma benci sama keadaan. kenapa harus kayak gini? Perasaan lo ga salah. Hanya aja ya itu tadi, caranya ga tepat. Lo posesifin gue, lo maksa gue jadi cowo lo. gue ga suka. Sebenernya gue bisa putusin lo kapan aja. tapi, gue tau itu percuma. Gue tau lo ambisius dan mutusin lo Cuma bakalan bikin gue tambah risih dikejar-kejar sama lo terus. Makanya gue kasarin lo. gue berharap lo bosen sendiri sama gue. gue ga tau kalo ternyata itu malah jadi nyakitin lo. maafin gue yah.” izal memeluk Sonia.
      “zal, lo bener-bener suka yah sama sofi?” tanya sonia lirih. Tangisnya mulai reda.
      “jujur, gue emang suka banget sama sofi. gue nyaman kalo deket dia. dan gue bakaln bahagia banget kalo dia bisa jadi milik gue.” ungkap izal.
      “jadi, lo ga mungkin yah suka sama gue? ga bisa yah, sedikiiiit aja buka pintu hati lo buat gue?” sonia melepas pelukan izal. izal menatapnya lekat.
      “gue ga tau. mungkin, kalo lo bisa jadi diri lo sendiri dan ga jadi cewe jahat lagi, ga jahatin sofi lagi, yea,,, siapa tau?” izal mengangkat bahunya.
      “gue itu lebih sempurna dari sofi. gue percaya, gue sanggup buat lo jatuh cinta sama gue.” sonia sok.
      “oh, ya? kita liat aja nanti. Hem,,, Mau peluk lagi?” goda izal. sonia melemparnya dengan bantal tazmania yang ada di sofa. Izal tersenyum nakal.
      Flashback off
      “hey tunggu.!” Izal tiba-tiba menghentikan langkahnya. BUGH. Sonia yang mengintil di belakangnya menabrak izal sempat kehilangan keseimbangan dan nyaris terjatuh.
      “ish,,,!! Kalo ngrem bilang-bilang dong.” protes sonia.
      “eh, sonia. kemaren lo bilang katanya udah suka sama gue sejak pertama ketemu, dan sampe sekarang masi suka sama gue, nah, lo bukannya sempet pacaran sama kakak gue? lo bo’ong yah sama gue, ato lo mainin kakak gue. eh? nah loh, gue bilangin loh ya.” ancam izal.
      “yeee… gue ga bo’ong kok. Gue emang dari dulu udah suka sama lo. tapi, gue juga ga mainin kakak lo. gue serius sama dia, tapi gue masih suka sama lo. aduh,, gimana yah. gue jadi bingung gini. Lo sih!!” sonia bingung.
      “hahahaha… bercanda tau. kena lo, gue kerjain. Hahahaha…” izal tertawa geli.
      “huuuh,,, rese lo zal. awas yah. gue cium lagi nih!!” sonia menjinjitkan kakinya, mendekatkan wajahnya ke wajah izal.
      “eits,,, jangan. Gue belum pernah dicium cewe selain nyokap gue.” izal menutupi pipinya. *alay.
      “gue tau. tapi gue ga peduli. Sini gue cium. Hey,,,,” sonia mengejar izal yang berlari meninggalkannya, sambil sesekali meledek sonia yang tak bisa mengejarnya.

***

      BUGH,,, BUGH,,, BUGH,,, Ckiiittt…
izal menghentikan larinya. Dan duduk di samping rama di sudut cafeteria. Menyerobot softdrink nya dan Glek… glek… glek… menenggaknya sampai habis.       “gila, minuman gue diabisin. Abis kesambet setan gurun mana lo?!!” kata rama yang sedari tadi melongo melihat tingkah sahabat bagai kepompongnya itu.
      “gue abis dikejar-kejar sonia. gila tu anak, masa mau nyium gue.” kata izal nyomot kentang goreng dari piring Rama.
      “elo tu yang gila. Keliatannya lo makin deket aja sama sonia.” cibir rama.
      “hahaha… deket giamana maksud lo. dari dulu gue sama dia kan gitu. Eh, ngomong-ngomong troy kemana?” izal mengalihkan pembicaraannya.
      “lagi sama dementor. Ya udah, gue cabut duluan yah. mau sama Kana.” Rama tersenyum penuh arti lalu bangkit dari kursinya.
      “ah, lo pacaran mulu.”
      “ye,, kayak lo engga aja. tar kalo lo mo pergi, jangan lupa bayar yah. gue belum bayar tuh.” Rama menunjuk makanannya dan langsung kabur.
      “woy,,,!! Wah,,, sialan tu anak. Dia yang kenyang. Dompet gue yang kering.” Gerutu izal.
      Drrttt… drrttt… drrrttt… hp izal getar.
      From: Sonia
      (*^3^)

      Izal tersenyum membaca sms dari sonia. dia memang telah memutuskan untuk berbaikan dengannya. hanya berbaikan. Bukan berarti membuka hatinya untuk sonia. bagaimanapun juga, sofi tetap pemilik hatinya. Pengen lepas dari sonia, bukan berarti harus menyakitinya kan. tapi masih susah juga buat mencoba lepas dari sonia sambil menggenggam sofi biar tetep tinggal. Apalagi, sekarang Sofi deket sama Rendi. rada mengkhawatirkan juga sih. bukan hawatir sama Sofinya, tapi sama Rendi.
      Sejak pertama ketemu Sofi, chemistry nya emang udah kerasa banget. waktu itu…
      24 Desember 2009 05:27 pm
      Izal baru saja pulang latihan footsall. tiba-tiba, matanya tertuju pada seorang cewe berdiri di depan gedung sebuah Lembaga Bimbel.
      “kayaknya kenal…” gumam Izal sambil menyipitkan matanya. dia memutuskan untuk mendekati cewe itu.
      “hey. Lo anak SMA Nusantara?” tanya izal setelah menghentikan laju motornya tepat di depan cewe itu. cewe itu mengernyit melihat Izal.
      “lo siapa?” tanya Sofi jutek sambil diam-diam mengambil sikap siaga. Dia memegang erat buku yang dipeluknya. Kalo cowo dihadapannya ini macem-macem tinggal pukul aja.
      “gue izal. anak smasanta juga.” izal memperkenalkan diri.
      “belum pernah denger.” Kata sofi jutek.
      “gue kapten NFC, tanding tiap sabtu sore di lapangan indoor sekolah.” Jelas izal.
      “belum pernah liat.” Sofi tetep jutek. Izal mendengus kesal.
      “lo Sofia kan? anak 10-B?” izal memastikan. Jangan-jangan cewe ini cumi-Cuma.mirip.
      “iya. kenapa?” sofi masih jutek.
      “kelas kita tetanggaan. Gue anak 10-C. um,,, kalo disekolah suka pake headband.” Izal menyebutkan cirri khasnya.
      “ooooh… yang suka pake headband kayak orang migraine itu? yang sering dihukum mbah kong gara-gara ga pernah ngancingin baju?” tanya Sofi.
      Izal senyum-senyum sendiri mengingat perkenalannya dengan Sofi dulu. cewe cantik, tapi jutek. waktu dibilang izal kapten NFC, dengan juteknya Sofi bilang ga pernah liat, padahal biasanya cewe langsung konek kalo di suruh inget-inget cowo yang berjabatan, giliran di kasih tau izal kalo sekolah pake headband aja, sofi langsung on, mana dibilang kayak orang migraine dan tukang dihukum lagi. dasar cewe unik.
      Izal bangkit dari kursinya dan menggenngam tangan cewe yang baru saja lewat dihadapannya.
      “apaan sih lo? cewe lo ga suka kalo lo deket-deket gue.” sofi menarik tangannya.
      “sof, satnite kemaren lo jalan yah sama Rendi? gue liat lo extensa footsall.” Selidik izal.
      “iya. kenapa?”
      “sedeket apa hubungan lo sama dia?” tanya izal.
      “gue kan udah bilang, kalo kak rendi tu sahabat kecilnya kakak gue, dan gue juga temenan sama dia.” jelas sofi jengkel. “em,, gue duluan yah. sampai ketemu di kelas…”

***

      “hey,, Sofi!!” teriak izal memanggilku. Aku ga peduli. Dan terus jalan. Cepet-cepet, takut izal ngejar aku. sebenernya ga tega juga kalo harus sejutek ini sama izal. tapi, aku harus lupain dia. jauhin dia, mungkin itu cara yang terbaik.
      Drrtttt… drrttt… drrtttt…
      From: kak rendi
      Itik kecil  :p


to be continue...

.:: Eeniee Meeniiee ::. pt. 14

   “IZAL!!!” jerit Sonia. yang langsung menarik Sofi dan menjauhkannya dari Izal membuat Sofi kehilangan keseimbangan lalu terjatuh.
            “Sonia!! lo apa-apaan sih?!” bentak Izal, lalu mengulurkan tangannya membantu Sofi berdiri. Tapi Sofi menepis tangan Izal.
            “elo tu yang apa-apaan?! Lo ngapain sama cewek ganjen ini eh?!” Sonia balik membentak Izal lalu melirik Sofi sinis.
            “oh,, gue tau. pasti lo kan yang godain dia?! lo pasti uda stress kan karena ga sanggup nerima kenyataan kalo Izal uda jadi cowo gue sekarang!! Lo maksa dia buat nyium lo kan!! dasar cewe kegatelan lo. ganjen. Saiko!!” Sonia memaki Sofi.
            “hey, lagi ngapain?” sapa Izal yang melihat Sofi duduk sendiri di bawah pohon memandang danau buatan yang ada di belakang sekolahnya.
            “ngapain lo duduk disini? balik sono. Gue lagi pengen sendiri.” kata Sofi datar tanpa mengalihkan pandangan dari ikan-ikan di danau yang sedang berebut remah roti yang baru saja ditaburkan Sofi.
            “yakin, lo ga takut gue tinggal sendiri? gue denger-denger, disini angker lhoo. dulu ada anak cewe sekolah ini yang bunuh diri di danau itu tuh gara-gara frustasi ga lulus ujian, trus sekarang arwahnya gentayangan. Lo ga takut kalo dia nongol di depan lo eh?” Izal memelankan suaranya, lebih mirip bisikan sekarang.
            “h’h mana ada setan berani nongol disiang bolong? panas-panas begini setannya ga berani keluar. Apalagi cewe, takut item dia.” jawab Sofi santai.
            Izal terkekeh.
            “sof,,,” panggilnya.
            “apa?” tanya Sofi stay cool
            “guee…”
            “AW…!!” pekik Sofi sambil menggosok matanya.
            “eh? lo kenapa?” Izal terpaksa mengalihkan pembicaraannya.
            “mata gue kelilipan.” Kata Sofi sambil terus menggosok mata kiri nya.
            “eh eh,, jangan di gosok, tar mata lo infeksi. Sini gue tiup.” Izal mendekatkan wajahnya ke wajah Sofi.
            Sementara itu…
            “Rama, Troy, lo liat Izal ga?” tanya Sonia pada Troy dan Rama yang sedang asik bermain bola di lapangan indoor.
            “Izal? tadi sih dia disini.” jawab Troy yang tetep fokus pada permainan bola kakinya.
            “trus sekarang? Gue serius nih” tanya Sonia yang kesal merasa tidak di perhatikan.
            Troy menendang bolanya kearah Rama yang dengan cekatan menangkapnya dengan kakinya. Mereka saling pandang, tampak bosan dan ga mood untuk menjawab pertanyaan Sonia. pada dasarnya, mereka emang ga terlalu setuju dengan hubungan Izal dan Sonia. yeah, kalian tau sendiri lah.
            Sonia berjalan menuju gudang belakang sekolah yang dibicarakan Rama tadi. Katanya Izal disuruh guru olah raga untuk mengembalikan tali bekas tarik tambang ke gudang itu.
            Sonia sampai di belakang sekolah. Langkahnya terhenti ketika melihat Izal sedang mendekatkan wajahnya ke wajah Sofi.
            “elo tu yang saiko!! Ayo pergi.!!” Izal menarik tangan Sonia, Sonia melepas tangan Izal.
            “engga, zal!! gue masih punya urusan sama dia. dia harus bisa terima kenyataan kalo kita uda jadian.”
            “Sonia!! ikut gue sekarang juga. ato kita PUTUS!!” kata Izal tegas. Sonia diam. lalu mengintil di belakang Izal yang pergi meninggalkan taman belakang sekolah.

            ***

            “Izal,,,!! Izal,,, tunggu!!” teriak Sonia setengah berlari mengejar langkah Izal. Izal menghentikan langkahnya.
            “apa?! Gue males sama lo.!”
            “ish, lo aneh. Lo yang salah, kenapa jadi lo yang marah sih? harusnya kan yang marah gue.”
            “lo bentak-bentak trus ngatain Sofi begitu, apa menurut lo yang kayak gitu bener, eh?!”
            “emang kenapa? emang bener kan yang gue bilang? Sofi itu ganjen. Tau lo uda punya cewe masih aja ngejar-ngejar elo. Lagian, Lo nya juga sih, lo itu cowo gue zal, ngapain sih lo mesti deket-deket dia? pake mo nyium-nyium dia segala lagi.”
            “eh, Sonia. dengerin gue yah. tadi tu matanya Sofi kelilipan. Gue Cuma mo nolongin dia. gue emang cowo lo, tapi gue bukan milik lo. suka-suka gue dong gue mo deket sama siapa aja. nyokap gue aja ga nglarang, lo tu Cuma cewe gue, cewe yang GAK GUE INGINKAN. Ga usah sok-sokan posesifin gue deh. Ga usah ngatur-ngatur gue. Gue GA SUKA!!” Izal memberikan teKanan khusus pada kata-katanya. Lalu pergi meninggalkan Sonia.
            Beberapa anak yang lewat dan melihat pertengkaran itu saling berbisik sambil melirik Sonia. membuat Sonia harus menunduk malu, lalu bersembunyi untuk menyelamatkan image nya.

***

            dasar cewe kegatelan lo. ganjen. Saiko!!
            Aku tersenyum sinis mengingat kalimat Sonia. tadi aku memang lebih memilih diam daripada melawannya. Bukannya aku takut. Aku hanya menjaga harga diriku. Dia itu norak. Nyerang sahabatnya sendiri Cuma gara-gara seorang cowo. Kalo aku bales neriakin dia tadi, berarti aku sama noraknya dong kayak dia. lagian, kalo aku bales dia, kesannya kayak rebutan cowo aja. malu-maluin banget sih. kita itu cewe. Jangan mentang-mentang persediaan cowo makin menipis, terus cowo-cowo ganteng pada homo, terus kita berubah jadi cewe norak yang hobi rebutan cowo dengan alasan emansipasi. Itu ga bener. Emansipasi ya emansipasi, tapi jangan sampe ngorbanin harga diri dong.
Kita Makhluk tuhan yang paling seksi *jiaaahh… kayak judul lagu aja. maksudku, makhluk tuhan yang paling istimewa dengan segala keindahan yang dimilikinya. seharusnya cowo yang rebutin kita. Bukan kita yang rebutan cowo.
            Aku melenggang santai memasuki kelasku. Kejadian di taman belakang tadi dengan mudahnya terlupakan begitu saja dari benakku. Mungkin karena ga penting. Dan emang ga penting.
            Suasana kelas mulai sepi. emang udah waktunya pulang sih. aku menghampiri kursiku, dan mengambil tas punggungku. Tasnya Sonia masih ada dikursinya. aku melihat kebelakang. Tasnya Izal juga masih ada di mejanya. Mungkin mereka masih asik berdebat. Sonia salah faham dan itu gara-gara aku. tapi, sebodo amat. Aku ga perlu minta maaf dan jelasin semuanya. Yang penting aku dan Izal tau keadaan yang sebenarnya dan Sonia akan lebih senang menerima penjelasan dari Izal ketimbang dariku.
            Kebanyakan mikirin Sonia dan Izal, jadi ga kerasa kalo langkahku uda sampai di depan gerbang sekarang. Aku mendekati pohon besar tempatku biasa berdiri dalam rangka nunggu jemputan. Ada yang beda dalam penantianku kali ini. kalo biasanya aku sekolah dianter jemput pak ujang, beberapa hari ini kak Rendi yang getol nganter jemput aku. entah sejak kapan kebiasaan ini mulai berlaku. Yang jelas, kebiasaan kak Rendi yang suka nganter jemput aku, itu membawa kebahagiaan sendiri buat pak ujang karena berkat kak Rendi, pak ujang jadi makan gaji buta. Wuaaaa… aku bilangin papa loh. :p
            mobil Honda jazz silver berhenti di depanku. Aku tersenyum menyambut seseorang yang keluar dari mobil itu.
            “hai. Uda lama nunggunya?” tanya kak Rendi. aku menggeleng.
            “engga kok. Baru aja keluar.”
            “ok. aku on time berarti. Ayo.” Kak Rendi membukakan pintu untukku. Aku mengangguk.
            “nanti satnite kan. ayo kita jalan.” Ajak kak Rendi to the point.
            “mo kemana? kayaknya ga ada moment special deh.” Tanyaku.
            “kemana aja. nonton, main di time zone, ato hunting maKanan enak mungkin?”
            “um,, terserah kakak aja deh.” Jawabku santai. Kak Rendi mengangguk.

***

            aku sedang bersiap-siap di kamarku. Karena kak Rendi udah kuliah, mungkin aku harus mengimbanginya dengan merubah style ku. Jadi, Malam ini aku memutuskan memakai dress mini warna dark grey dengan pita dan sepatu yang senada dengan dress ku.
            Aku janjian dengan kak Rendi jam 19.00. kak Rendi jemput aku ke rumah. Sekarang uda jam 18:45, pasti kak Rendi lagi otw. Ini bukan pertama kalinya aku jalan sama kak Rendi. dulu sebelum kak Rendi jadian sama Sonia, kita sering hang out bareng. Nge-pump, nonton, maen di time zone, ke kebun binatang, pantai, puncak, pokonya seru-seruan deh. Setelah kak Rendi jadian sama Sonia, kita lebih sering jalan bertiga. Jadi, waktu tadi kak Rendi ngajakin jalan, aku sih asik-asik aja. toh juga uda biasa.
            ‘tiiinn… tinn…’ ga salah lagi. pasti itu mobilnya kak Rendi. aku beranjak keluar kamar. Sebelumnya, aku semprotkan dulu parfum ke leher dan pergelangan tanganku.
            “cantik banget. kamu ga takut aku suka sama kamu?” goda kak Rendi setelah aku duduk di sampingnya.
            “emang bisa yah?” aku ganti menggodanya.
            “aku kan cowo normal. Kenapa engga.” Kak Rendi mengangkat bahunya. Lalu mulai menjalankan mobilnya.
            *skip…
            Aku dan kak Rendi memutuskan untuk nonton disebuah mall. Berhubung film yang akan kami tonton baru mulai 1 jam lagi, akhirnya aku dan kak Rendi memutuskan untuk menunggunya sambil main di time zone yang ada di lantai 2.
            Kak Rendi menggandeng tanganku dan menuruni escalator bersama. Kali ini aku rada salting. Meskipun kita sering jalan berdua,, tapi kalo gandengan tangan beginiii…
            “biar lebih enak diliat orang. Kan aneh, kalo ada cewe mungil ngintil di belakangku, tar dikira aku bawa tuyul lagi.” goda kak Rendi sambil menggenggam tanganku.
            “ye kakak… mana ada tuyul yang cantik begini.” kataku sok.
            “ya ada lah. Ya kamu itu tuyulnya. Tuyul yang telah mencuri hatiku.” kak Rendi nge gombal.
            “oooooooooo…” timpalku sok sweet.
            “kamu mau main apa?” tanya kak Rendi begitu kita sampai di depan time zone.
            “um,,, aku mau…”
            “eh, sof. Bentar deh.” Kak Rendi memotong kalimatku, lalu mengeluarkan hp nya yang berdering dari saku celananya.
            “halo?” kak Rendi menjawab telfonnya.
            Aku yang ga tertarik denger percakapannya kak Rendi memilih untuk mengedarkan pandanganku ke sekililing mall. Beberapa pernak-pernik dan dekorasi natal mulai dipasang di mall ini. aura natal mulai terasa, padahal mah natalnya masih sebulan lagi.
            di samping time zone ada kios permen yang cukup menggugah seleraku. Ada gulali, loli pop, dan… permen kapas. Ah, permen kapas. Jadi inget sama Izal deh. Kalo aja kecelakaan itu ga terjadi, pasti aku udah abisin permen kesukaanku itu bareng Izal sambil ngerayain hari jadi kita. Tapi kenyataannya…
hus…!!! Lupain. Ga ada gunanya inget-inget kejadian itu lagi. semuanya uda terjadi. Keadaannya juga uda berubah. Perubahannya terlalu cepat sampe-sampe aku sendiri ga ngerti kenapa semuanya bisa terjadi. Izal uda jadi milik Sonia sekarang. ga seharusnya aku inget-inget dia lagi. aku emang uda bisa terima kenyataan kalo Izal uda jadian sama Sonia. tapi jujur, kadang aku masih berharap kalo Izal bisa kembali sama aku. tapi, udahlah. Aku bukan tipe cewe yang hobi nyerobot cowo orang. Aku harus konsisten dengan kata-kataku. Dan mungkin mulai sekarang, aku harus belajar buat lupain Izal.
            “Sof,,?” suara lembut kak Rendi menyadarkanku.
            “eh, kakak uda selesai telfonnya?” tanyaku rada-rada ling lung gara-gara nglamun tadi.
            “udah. Um,,, Sof, kita keluar sebentar gapapa yah. tadi temen aku telfon, sepatu footsall nya ketinggalan dibagasi mobilku, mo di pake maen sama dia. harus dianterin kesana.” Jelas kak Rendi.
            “ya udah. Aku gapapa kok. Emangnya temen kakak sekarang lagi dimana?”

***

            @extensa footsal club
            “gue break bro!!” Izal mengangkat tangannya lalu berjalan ke pinggir lapangan.
            “ok!! Troy lo masuk” teriak Rama yang masih bermain di lapangan. Troy mengambil botol air mineral dari tangan Kana. Menenggaknya sampai habis lalu berlari ke lapangan bermain bersama Rama.
            Izal duduk di samping Kana, tempat yang di duduki Troy tadi.
            “minum dong.” pinta Izal pada adik sepupunya yang manis itu.
            “yah, yang ini diabisin Troy. Sinta, minta minumnya dong.” pinta Kana pada Sinta yang duduk di sampingnya. Sinta merogoh tas tangannya dan mengambil sebotol air mineral yang masih utuh.
            “nih!!” kata Sinta seraya menyerahkan botol itu pada Kana. Kana membukakan segelnya.
            “nih kak.” Kana menyerahkan botol air mineral yang sudah terbuka. Izal langsung menenggaknya sampai habis.
            “lo ga ikut maen?” tanya Izal pada Marco yang duduk di sampingnya.
            “maen, tapi bentar. Nunggu sepatu gue, ketinggalan di mobilnya Rendi. nah tu dia orangnya.” Marco menunjuk Rendi yang baru saja muncul dari pintu masuk. Rendi ga sendirian. Dia datang bersama cewe cantik memakai dress berwarna dark grey.
            “Sofi?”


to be continue...